BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Sejarah
peradaban islam mempunyai dua konsep. Pertama, sejarah memberikan pemahaman
akan arti objektif tentang masa lampau. Peristiwa masa lampau yang sampai
kepada kita saat ini adalah peristiwa yang benar-benar terjadi, ia bukan
legenda atau cerita yang di karang (fiktif).
Dalam
hal ini Al-Quran menegaskan kebenarannya dan menutupkan kisahnya walaupun tidak
secara rinci dalam penuturan kisahnya, di samping itu ada banyak bukti-bukti
arkeologis yang bisa menuatkan secara empiris bahwa peristiwa tersebut benar-benar
terjadi. Kedua, sejarah menunjukkan maknanya yang subjektif, karena masa lampau
tersebut telah menjadi semua kisah atau cerita yang kebenarannya masih di
pertanyakan.
Namun
hal yang sangat penting dari dua konsep di atas adalah bahwa ia memberikan
gambaran kepada kita akan arti sejarah yang sesungguhnya dalam kehidupan,
terutama dalam membentuk pemahaman manusia tentang masa lampau sehingga bisa
dijadikan rujukan untuk gerak sejarah berikutnya, karenanya dalam mempelajari
sejarah kita perlu memperhatikan beberapa karakteristik berdasarkan disiplinnya
yang dapat di lihat pada tiga orientasi yaitu :
Pertama,
sejarah merupakan pengetahuan mengenai kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa,
dan keadaan manusia pada masa lampau dalam kaitannya dengan keadaaan masa kini.
Kedua,
sejarah nerupakan pengetahuan tentang hukum-hukum yang tampak menguasai
kehidupan masa lampau, yang diperoleh melalui penyelidikan dan
analisis/peristiwa-peristiwa masa lampau.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
keadaan Arabiya Pra-Islam ?
2. Bagaimana
tradisi menulis serta situasi pendidikan Bangsa Arab Pra-Islam?
3. Apa
saja pusat kegiatan intelektual di luar Arabiya Pra-Islam ?
C.
Tujuan Masalah
1. Untuk
mengetahui keadaan Bangsa Arab Pra-Islam
2. Untuk
mengetahui tradisi dan situasi pendidikan Bangsa Arab Pra-Islam
3. Untuk
mengetahui berbagai macam pusat kegiatan intelektual di luar Arabiya Pra-Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Arabiya
Pra Islam
Secara geografis, Jazirah Arab
bentuknya memanjang, ke sebelah utara berbatasan dengan Palestina dan padang
Syam, ke sebelah timur Hira, Dijla (Tigris), Furat (Euphrates) dan Teluk
Persia, ke sebelah selatan Samudera Indonesia dan Teluk Aden, sedang ke sebelah
barat Laut Merah. Jadi, dari sebelah barat dan selatan daerah ini dilingkungi
lautan, dari utara padang sahara serta dari timur padang sahara dan Teluk
Persia, letak geografis ini telah melindunginya dari serangan dan penyerbuan
penjajahan serta penyebaran agama.[1]
Jazirah Arab terletak di antara dua
kebudayaan besar dunia, yaitu Romawi di Barat dan Persia di Timur. Persia
adalah ladang subur berbagai khayalan (khurafat) keagamaan dan filosof yang
saling bertentangan, sedangkan Romawi telah dikuasi sepenuhnya oleh semangat
kolonialisme. Negeri ini terlibat pertentangan agama , antara Romawi di satu
pihak dan Nasrani di pihak lain. Negeri ini mengandalkan kekuatan militer dan
ambisi kolonialnya dalam melakukan petualangan (naif) demi mengembangkan agama
kristen, dan mempermainkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya yang
serakah.[2]
Sementara itu, di jazirah Arabia
kehidupan dalam keadaan tenang, jauh dari hal-hal di atas, mereka tidak
memiliki kemewahan dan peradaban seperti Persia yang memungkinkan mereka
kreatif dan pandai menciptakan kemerosotan-kemerosotan, filsafat keserbabolehan
dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama, mereka juga tidak memiliki
kekuatan militer Romawi yang mendorong mereka melakukan ekspansi ke
negara-negara tetangga, mereka tidak memiliki filosofi dan dialetika Yunani
yang menjerat mereka menjadi bangsa mithos dan khurafat.
Karakteristik mereka seperti bahan
baku yang belum diolah dengan bahan lain, masih menampakkan fitrah kemanusiaan
dan kecenderungan yang sehat dan kuat, serta cenderung kepada kemanusiaan yang
mulia, seperti setia, penolong, dermawan, hanya saja mereka tidak memiliki
ma’rifat (pengetahuan) yang akan mengungkapkan jalan ke arah itu, karena mereka
hidup di dalam kegelapan, kebodohan, dan alam fitrahnya yang pertama. Akibatnya
mereka sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan tersebut.[3]
Kemudian mereka membunuh anak dengan
dalih kemuliaan dan kesucian, memusnahkan harta kekayaan dengan alasan
kedermawanan dan membangkitkan peperangan di antara mereka dengan alasan harga
diri dan kepahlawanan.
Pada zaman dahulu, Jazirah Arab
terbagi kedalam enam bagian yaitu :
1. Hijaz,
terletak di sebelah tenggara dari Thursina di tepi laut merah. Di daerah Hijaz
itulah letaknya kota yang terkanal dengan nama Mekkah atau Bakkah, Yastrib atau
Madinnah, dan Thoif.
2. Yaman,
terletak disebalah selatan Hijaz. Dinamakan Yaman karena daerah itu letaknya
disebelah kanan Kakbah bila kita mengahdap ke timur. Disebelah kiri daerah itu
terletak Negeri Asier. Didalam daerah itu ada beberapa kota yang besar-besar
seperti kota Saba’ atau Makrib, Saria, Hudaidah, dan ‘And.
3. Hadhramaur,
terletak disebelah timur dari daerah Yaman dan di tepi samudera Indonesia.
4. Muhram,
telertak disebalah timur daerah Hadhramaur.
5. Oman,
terletak disebalah utara bersambung dengan teluk Persia dan disebalah tenggara
dengan Samudera Indonesia.
6. Al-Hasa,
terletak di pantai Teluk Persia dan panjangnya sampai ke tepi sungai Euphrat.
7. Najd,
terletak di tengah-tengah antara Hijaz, Al-Hasa, Sahara Negeri Syam, dan Negeri
Yamamah. Daerah ini merupakan dataran tinggi.
8. Ahqaf,
terletak didaerah Arab sebelah selatan dan disebalah barat daya dari Oman.
Daerah ini merupakan dataran rendah.[4]
a.
Sejarah
Peradaban Bangsa Romawi
Menjelang
datangnya Islam, kekuatan dunia berpusat pada dua kekuatan Imperium Byzantium
sebagai pewaris Kerajaan Romawi yang beragama
Kristen,
kedua yaitu Imperium Persia yang beragama majusi. Kedua bangsa itu adalah
bangsa-bangsa besar yang sudah menguasai beberapa belahan dunia sejak sebelum
masehi. Kekaisaran Romawi yang sudah berabad-abad menguasai daratan Eropa dan menjadi kekuatan penting dunia yang tidak
terkalahkan, saat terjadi perselisihan, dimana kekaisaran dibagi menjadi 4
propinsi. Pada tahun 395 Kaisar Heodosius membagi kemaharajaannya menjadi dua
untuk dua orang puteranya Arkadius dan Honorius dengan Roma sebagai Ibukota Romawi
Barat dan Konstantinopel sebagai Ibukota Romawi Timur. Hal ini yang dikemudian
hari menjadi penyebab runtuhnya Romawi Barat pada tahun 410 M oleh bangsa
Gothia.[5]
Sementara
Romawi Timur dapat bertahan dan melanjutkan kemaharajaan Romawi sampai berabad-abad
berikutnya. Dengan demikian Romawi Timur menjadi satu-satunya pewaris
Kemaharajaan Romawi, dengan nama Imperium Byzantium dan Konstantinopel sebagai
Ibukota.
Antara
orang-orang Persia dan Romawi selalu terjadi peperangan yang berkepanjangan,
khususnya memperebutkan pesisir Laut Tengah sekitar Mesir dan Siria, karena
tempat tersebut sangat strategis untuk dijadikan Armada Lautan bagi
masing-masing kerajaan. Lantaran orang Persia beragama Majusi yang menyembah
api, sedangkan Romawi beragama Kristen dan mengakui adanya Tuhan, maka sedikit
banyak peperangan diantara keduanya juga peperangan antara Majusi dan Kristen,
hal ini yang kelak juga mempengaruhi orang Islam pada awal penyebarannya, yaitu
ketika tentara Persia dapat mengalahkan tentara Romawi dan merebut Mesir dan
Siria, orang-orang Islam bersedih sedangkan orang-orang Kafir Makkah
bergembira.
Namun
Allah memberi ketenganan kepada orang-orang Islam akan datangnya kemenangan
bagi orang-orang Romawi. Hal ini terjadi, dan tidak lama kemudian tentara Romawi
dapat mengalahkan tentara Persia dan merebut kembali daerah-daerah yang semula
direbut, dalam hal ini orang-orang mukmin bergembira dan orang-orang kafir
Makkah bersedih.
b.
Sejarah
Peradaban Bangsa Persia
Sedangkan Bangsa Persia adalah turun
temurun dari kekuasaan kemaharajaan Iskandar Zulkarnain, yang setelah
kematiannya, Persia terbagi menjadi kerajaan-kerajaan kecil, pada tahun 227
keluarga Sasania mempersatukan Persia dengan mendirikan Daulat Sasania. Mereka
beragama Zaradhusta.
Mereka
menyembah Allah, mereka berkekinan bahwa hak mereka memegang kekuasaan adalah
karunia Allah, dan hanya keturunan mereka yang berhak untuk memerintah. Namun
pada masa berikutnya dengan keyakinan bahwa cahaya adalah simbul Tuhan dan
kegelapan adalah simbul setan, maka bangsa Persia menyembah api. Diwilayah asia
barat terdapat peradaban yang tinggi yang dimiliki bangsa persia, mereka ahli
dalam politik dan militer.[6]
Kebudayaan
mereka bercampuran antara kebudayaan asli dengan mesopotamia (daerah yang
pernah ditaklukannya).Bangsa Persia membangun tambang tambang besar dan kuil
kuil seperti kuil di babilonia dan siria. Bangsa persia telah mengenal alfabet
yang terdiri dari 39 huruf. Mereka mengenal ilmu astronomi dari bangsa
babilonia. Bangsa zoroaster menganut ajaran zoroaster yang hidup sekitar 600
SM. Menurut ajaran zoroaster hidup adalah peperangan antara kebaikan (dewa
kebijaksanaan ahuramazda) dan kejahatan (dewa perusak ahriman).
Penganut
zoroaster harus ramah, jujur, tulus, dan bersahabat dengan sesamanya. Jika penganut
zoroaster meninggal ia dapat melewati api yang ada diantara dunia dan surga
tanpa terluka. Untuk mereka ada sebuah jembatan lebar yang menghubungkan surga
dengan dunia. Raja raja persia terkenal adalah penganut zoroaster. Bahkan raja
darius dalam satu prasastinya mengatakan “atas kehendak ahuramazda yang memilih
aku dan menjadikan aku raja seluruh dunia”. Raja persia lainnya ataxerxes 1
mengeluarkan kalender dengan nama nama dewa zoroaster sebagai nama nama
bulannya.[7]
Bangsa
persia akhirnya ditaklukan oleh islam pada abad 7 M oleh khalifah umar bin
khattab r.a.
c.
Sejarah
Peradaban Bangsa Arab
Sedangkan Bangsa Arab yang mendiami
Jazirah Arab terlepas dari dua kekuatan tersebut, dikarenakan letak geografis
Jazirah Arab yang dikelilingi oleh padang pasir dan lautan luas, sementara
negerinya gersang tidak dialiri oleh sungai dan tidak juga mendapat siraman air
hujan dengan teratur kecuali Yaman di sebelah Selatan. Maka wajar kalau dimasa
itu Jazirah Arab tidak dikenal kecuali Yaman, namun demikian kedua kekuatan itu
tidak tertarik untuk menguasainya lantaran letaknya yang sangat jauh dan harus
dijangkau dengan mengarungi lautan atau pegunungan tandus dan padang pasir yang
luas.
Bangsa
Arab adalah salah satu dari bangsa Smith, yang mendiami daratan yang
dinisbahkan kepada bangsa mereka, yaitu jazirah Arab. Mereka terdiri dari tiga
bagian:
1) Bangsa
Arab yang sudah punah
2) Bangsa
Arab campuran
3) Bangsa
Arab pendatang[8]
Bangsa
Arab yang sudah punah tersebut terdiri dari kaum: ‘Ad, Thamud, Tasm, Jadis,
‘Imliq, Jurhum dan Wabar. Adapun generasi berikutnya terdiri dari dua garis
keluarga besar, yaitu Qahtan dan ‘Adnan: Keluarga Qahtan ialah merupakan garis
keturunan keluarga yang datang dari sebelah Timur sungai Euphrat, lalu
bertempat
tinggal di Hadramaut dan Yaman, dibagian selatan semenajung Arabia. Mereka itu
telah menguasai tehnik pengairan yang baik, mereka mendirikan bendungan Ma’rib
untuk mengumpulkan air yang dapat mereka pergunakan pada saat mereka perlu.
Oleh karena itu di Yaman terdapat beberapa kerajaan yang terkenal dengan
kota-kota besarnya yang makmur serta mempunyai kemajuan yang cukup dengan zaman
itu.
Di
antara kerajaan-kerajaan itu ialah kerajaan Saba’, yang riwayatnya
tersebut dalam Taurat dan Al-Qur’an:
“Sesungguhnya karena kemakmuran negeri ini (Yaman) dinamailah dia ‘Negeri Arab
yang berbahagia”. Sedangkan keluarga
Adnan merupakan Garis keturunan yang mendiami Makkah dan negeri-negeri di
sekitarnya (Hijaz). Mereka adalah
keturunan
nabi Isma’il a.s. bin Ibrahim a.s. yang datang ke Makkah dan mendirikan Ka’bah.
Dari keluarga Adnan ini lahirlah beberapa suku (kabilah), diantaranya adalah
Kinanah, yang daripadanya lahir suku Quraisy.
Oleh
karena sebagian besar tanah Arab berupa padang pasir dan gurun yang tandus,
maka kebanyakan penduduknya hidup berpindah-pindah, hal ini menyebabkan
timbulnya perselisihan antar satu suku dengan yang lainnya, karena
memperebutkan lembah dan air. Kerena itu mereka terbentuk dengan sifat berani
untuk membela diri. Sehingga tertanam dalam diri mereka sifat berani dan suka
berperang.
Mereka
hidup dalam udara yang merdeka, jauh dari jangkauan kaum penjajah. Sedangkan di
Yaman, tidak satupun kerajaan yang
berani mengarahkan tentaranya ke negeri Arab yang tandus itu, kecuali ke Yaman
yang kaya raya. Negeri ini pernah diperangi oleh bangsa Ethiopia pada tahun 570
M. Dibawah pimpinan panglima Aryath, kemudian Abrahah menggantikan Aryath
sebagai gubernur diYaman, ia mengerahkan tentaranya menyerang Makkah dengan
maksud akan meruntuhkan Ka’bah pada tahun 571 M. Angkatan perang Abrahah yang
besar yang dipelopori oleh pasukan Gajah itu hancur lebur ditengah jalan karena
dihadang oleh serangan burung Ababil.[9]
Sebenarnya
suku-suku mereka (Bangsa Arab) terpecah belah dan tidak bersatu, tidak tunduk
kepada suatu pemerintah pusat, yang mengakibatkan tidak adanya kesatuan politik
dan agama mereka. Tiap suku mempunyai pimpinan sendiri dengan gelar ‘Syaikul
Qabilah’ (Kepala suku). Kepala dari suku yang besar, seakan-akan menjadi raja
yang tidak bermahkota. [10]
Perintahnya
menjadi undang-undang, segala keperluannya harus dituruti, dan suku-suku yang
kecil harus tunduk kepada mereka. Sedangkan kedudukan Suku Quraisy pada umumnya
sangat menghormati Ka’bah. Mereka datang untuk berziarah dan menunaikan haji
tiap tahun. Bulan-bulan waktu ziarah Ka’bah dianggap sebagai bulan yang mulia,
di kala itu tidak boleh melakukan peperangan.
Di
sekeliling Ka’bah itu mereka mengadakan pasar tahunan, yaitu ‘Ukaz dan Zul
Majaz. Kaum Quraisy bermukim di sekitar Ka’bah untuk melindungi dan mengabdi kepadarumah
suci itu. Oleh karena itu mereka memperoleh kehormatan dari suku-suku yang
lain. Karakter Suku Quraisy adalah suku saudagar yang gemar berniaga, mereka
berhubungan dengan bangsa-bangsa yang telah maju, perhubungan ini sangat besar
pengaruhnya kepada kemajuan dan kecerdasan fikiran mereka. Mereka juga dikenal
dengan suku yang sangat memuliakan tamu. Dalam soal ini mereka mendapat pujian
yang istimewa pari para penyair.
Sebelum
datangnya Islam, sebagian besar suku Arab menyembah berhala, dengan bentuk yang
berbeda-beda, jumlah berhala yang mereka sembah mencapai 360 berhala, yang
seluruhnya terletak di sekitar Ka’bah. Tiap suku memiliki berhala sendiri, juga
terdapat patung Nabi Ibrahim, Isa Al-Masih, dan Hubal sebagai berhala suku
Quraisy, berhala-berhala itu terbuat dari batu akik dan batu hitam.
d.
Sejarah
Peradaban Mesir
Kebudayaan mesir merupakan salah satu kebudayaan sungai, yaitu sebuah
kebudayaan yang banyak terpengaruh dari endapan lumpur sungai, yaitu sungai
nil.sungai nil merupakan sungai terpanjang di dunia. Terdapat pula peninggalan kebudayaan
mesir kuno, seperti memphis, thebes, gizah, luxor dan sebagainya. Di gizah terdapat makam para raja raja
yang berbentuk piramida dan patung singa berkepala manusia yang disebut spinx. Bangsa mesir kuno telah mampu membagi
bulan dan mengenal tulisan yang disebut helioglip.[11]
e.
Sejarah
Peradaban Yunani
Sebelum agama
islam masuk ke eropa, dikalangan bangsa barat sudah ada peradaban dan
kepercayaan. Yang mereka anut pada saat itu adalah mengakui banyak tuhan atau politheisme.
Kepercayaan yang menonjol di kalangan mereka saat itu bahwa tuhan bertempat di
gunung olimpus. Dewa yang tertinggi bertahta di gunung itu adalah dewa zeus.
Dewa zeus menguasai beberapa dewa lainnya, seperti dewa ares (dewa peraga),
dewa artemis (dewa perburuhan), dan lain sebagainya.[12]
Bangsa yunani pada saat itu telah memiliki pengetahuan tinggi, mereka mampu
mendirikan negara kota seperti sparta, athena, thebe, dengan korinthia.
Pembentukan negara kota seperti ini tidak hanya terjadi di yunani saja, namun
juga di pulau pulau laut aegea dan mediteranian. Kemampuan yang mereka miliki
tersebar ke beberapa wilayah lain, bersamaan dengan kepindahan merka ke tmpat
yang baru (kolonisasi).mereka meninggalkan kota menuju asia kecil thrasia,
yaitu daerah sepanjang laut hitama, italia dan laut sisilia.
B.
Tradisi Menulis dan Pendidikan
Bangsa Arab
Bangsa Arab Pra-Islam, menurutnya
lembaga pendidikan dasar, kuttab, kata
jadian dari kataba (menulis)
sudah dikenal pada zaman pra-Islam.
Menurut Hasan Asari jika kita mengambil pengertian kuttab sebagaimana kemudian dipahami dalam Islam, maka kuttab adalah lembaga pendidikan dasar
untuk mengajarkan tulis baca, berhitung, dan dasar-dasar agama, maka penggunaan
kata ini pada bangsa Arab pra-Islam menunjukkan bahwa adanya satu sistem
pendidikan yang telah berfungsi di kalangan bangsa Arab pra-Islam.
Indikasi ini menurut Hasan Asari
didukung oleh terdapatnya dalam catatan sejarah beberapa nama yang dikenal
sebagai guru (mu’allim) yang hidu
sebelum periode Islam seperti Bisyr b. ‘Abd al-Malik, Sufyan b. Umayyah b. ‘Abd
Syams, ‘Usman b. Zarrah, Abu Qays, dan sebagainya. Catatan-catatan sejarah
tentang kegiatan pendidikan di tengah komonitas Yahudi dan Kristen yang hidup
di Arab pra-Islam cendrung lebih lengkap, jika dibandingkan dengan bangsa Arab
pagan (penyembah berhala).
Komonitas Yahudi dan Kristen
terkenal dengan perhatian yang tinggi terhadap pendidikan. Sebelum datangnya
Islam Arabia telah mengenal sekolah-sekolah Yahudi dan Kristen yang mengajarkan
kitab suci (Taurat dan Injil), filsafat, jadal (debat) dan topic-topik lain yang berkaitan dengan agama
mereka, sehingga banyak orang-orang Arab pra-Islam yang memamfaatkan kehadiran
Yahudi dan Kristen untuk belajar tentang sejarah, nab-nabi, maupun hal-hal
lainnya.[13]
Ringkas kata, menjelang datangnya
Islam, bangsa Arab pada dasarnya telah mengembangkan satu kegiatan sastra,
terutama dalam bentuk puisi. Meskipun sistem ekpresi dan transmisi yang dominan
adalah lisan, tulisan telah mulai dikenal secara terbatas. Paling tidak untuk
kalangan tertentu (Yahudi dan Kristen) pendidikan
C.
Pusat Kegiatan Intelektual di Luar
Arabia Pra-Islam
1.
Athena Klasik : The School of Hellas
Sejarah
panjang peradaban Yunani mengantarkannya ke puncak peradaban manusia di seluruh
dunia. Kemajuan di berbagai bidang dengan mudah terlihat sebagai simbolisasi
dari kuatnya peradaban ini. Tidak ada pembicaraan tentang ilmu pengetahuan
modern yang bisa mengelak dari merujuk akarnya ke Yunani sebagai sebuah kota
yang berada di bawah kekuasaan Romawi Timur, Athena mengalami kemakmuran dan
kemajuan budaya serta menjadi salah satu pusat kegiatan intelektual kerajaan
Romawi.[14]
Sejumlah
pusat pendidikan berdiri di kota ini. Filsafat dan ilmu-ilmu lainnya berkembang
dengan baik. Peradaban ini melahirkan sederet nama-nama besar di berbagai
bidang pengetahuan semisal Thales, Anaximenes, Anaximender, Protogoras,
Socrates, Aristoteles, Plato, Plotinus dan Phytagoras. Di Athena, Plato
yang wafat tahun 347 SM mendirikan Akademi Filsafat yang belakangan dikenal
sebagai museum Athena.
Merupakan
sebuah lembaga besar dan terbuka, tempat para ilmuan dari berbagai latar
belakang bangsa dan agama bersama-sama mengembangkan pengetahuan
Pandangan
keagamaan Justian I yang demikian fanatik dan tidak bisa mentolerir keberadaan
penganut sekte atau agama lain menjadi latar belakang penutupan museum Athena.
Disamping itu, penutupan museum ini juga berkaitan dengan sikap Justinian I
yang tidak terlalu antusias terhadap dunia ilmu pengetahuan dan filsafat, di
samping-alasan-alasan ekonomi.
2.
Alexandria Hellenistik
Alexandria (al-Iskandaryah) dibangun
sekitar abad ke-3 SM, terletak di pantai laut Tengah dan termasuk wilayah
Mesir. Kota ini berada di bawah kekuasaan Romawi Timur hingga datangnya Islam.
Pada abad ke-1 M, Alexandria telah menjadi pusat ilmiah dan fillsafat Yunani
bersamaan dengan pertemuan Hellenisme dengan pengaruh Oriental dan Mesir Kuno. [15]
Walaupun Athena memberikan jalan
bagi Alexandria sebagai pusat intelektual bagi lingkungan Yunani, namun
demikian tradisinya tetap meneruskan tradisi Hellas dengan menciptakan dua
sistem filsafat baru yang akan menempatkan mereka berdampingan dengan Plato,
Aristoteles dalam pengeruhnya bagi pemikiran Barat.
Sebagai pusat ilmiah, kota
Alexandria mendapat dukungan yang baik dari para Kaisar di Konstantinopel,
paling tidak hingga abad ke-4 M. Keterbukaan dan kebebasan ilmiah yang dulunya
berhasil memajukan Athena kembali diterapkan di Aleksandria. Para ilmuan dari
berbagai latar belakang budaya dan agama dengan bebas berpartisipasi dalam
kegiatan pengembangan ilmiah di kota ini. Sama halnya dengan periode Athena,
fanatisme agama tampaknya berperan besar dalam proses kemunduran kegiatan
intelektual di Alexandria.
Sejak awal abad ke-5 M., kegiatan
intelektual di kota ini terus mengalami kemunduran.
3.
Romawi Timur
Ketika kerajaan Yunani mengalami
kemunduran dan kemudian kaisar Augustus mendirikan kerajaan Romawi Pada tahun
27 SM. Saat itu, Athena tetap berfungsi sebagai pusat pengembangan intelektual.
Sayangnya, filsafat dan sains tidak pernah tumbuh subur di Roma seperti hal nya
di Athena dan Alexandria. Namun demikian, para filosof dan ilmuan pada masa
Romawi mencakup orang-orang yang sangat berpengaruh dalam perkembangan
intelektual Eropa masa pertengahan.
Produktivitas ilmiah benar-benar
mengalami kemunduran di bawah kekuasaan Romawi ini. Chester G. Starr menyebut
abad kedua kekuasaan Romawi ini sebagai abad mandul – dalam arti tidak
memproduksi karya ilmiah yang monumental. Adapun penyebab kemandulan ini adalah
:
- Absolutisme sistem imperial yang diterapkan benar-benar bertentangan dengan kebebasan sebagai syarat perkembangan ilmiah.
- Peralihan besar-besaran dalam struktur kelas sosial dimana kelas atas yang sebelumnya merupakan penyangga peradaban Yunani mengalami kehancuran.
- Bangkitnya individualisme menggerogoti sistem kemasyarakatan sehingga tidak memberi kemungkinan berkembangnya peradaban yang tinggi.[16]
Di antara karya yang sempat ada pada
masa ini adalah karya Plotinus yang mencakup keseluruhan filsafat termasuk
Kosmologi dan Fisika. Karya-karya ini merupakan sintesis dari pemikiran
Platonik, Phytagorean, Aristotelian, dan Stoic, yang kemudian dikenal dengan
nama Neoplatonisme. Merupakan filsafat yng dominan dalam dunia pemikiran
Yunani-Roman; sisa-sisa purbakala sampai pada era pertengahan.
Pesatnya pertukaran budaya terjadi
setelah tahun 155 SM, ketika kedutaan Athena tiba di Roma untuk menyampaikan
suatu keputusan yang tidak disukai yang telah diambil oleh penengah Yunani
dalam percekcokan dengan ibu kota negara bagian Oropus. Seruan tersebut tidak
berhasil dan sang duta besar kembali ke Athena, tanpa menghasilkan apa-apa
kecuali stimulasi ceramah filsafat di Roma. Transmisi pengetahuan dari Athena
menuju Roma salah satunya terjadi melalui Alexandria.
Ada keyakinan bahwa Plotinus (205
M.- 270 M.) –filosof Yunani— dilahirkan di Mesir; ia belajar di Alexandria
sebelum pindah ke Roma di usia 40 tahun.[17]
4.
Kostantinopel
Sumbangan Konstantinopel terhadap
perkembangan pengetahuan salah satunya adalah dengan didirikannya Universitas
oleh Konstantin di Konstantinopel. Institusi ini diakui oleh Theodosius II pada
tahun 425. merupakan universitas baru yang menjadi pusat belajar terpenting di
kerajaan tersebut.[18]
Disamping itu, perlu pula dicatat
beberapa peninggalan seperti karya-karya Proclus yang mencakup komentar
terhadap buku I dari Euclid yang berjudul ‘Element‘ yang berisikan
sejarah geometri Yunani yang sangat kaya serta sebuah risalah yang berjudul ‘Outline
of Astronomical Hypothesis’, yang merupakan ringkasan dari teori Hipparchus
dan Ptolemy.
5.
Jundi Shapur
Pusat intelektual lain yang juga
penting adalah Jundi Shapur, sebuah kota tua di bagian Tenggara lembah
Mesopotamia dan berada di bawah kekuasaan kerajaan Persia Sasaniyah. Kegiatan
ilmiah di kota ini mencapai puncak kejayaannya pada abad ke enam, namun kota
ini masih relatif vital sampai sekitar abad ke 4/10 M, setelah berada di bawah
kekuasaan Muslim.[19]
Jundi Shapur menjadi pusat
intelektual terbaik di zamannya, khususnya di bidang kedokteran, matematika dan
musik. Nama Jundi Shapur menjadi terkenal selama periode Islam. Jundi Shapur
secara cepat menjadi pusat ilmu pengetahuan yang utama, khususnya bagi
Pengobatan Hipokratik, yang kemudian diperkuat lagi setelah tahun 489 M.,
ketika aliran Edessa ditutup atas perintah penguasa Byzantine.
Bersamaan dengan berkembangnya
kegiatan ilmiah di kawasan Sasaniyah Kerajaan Romawi Timur tampaknya lebih
banyak dikuasai oleh Kaisar-kaisar yang tidak mendukung kegiatan ilmiah yang
mengakibatkan ditutupnya sejumlah akademi di beberapa kota. Hal ini secara langsung
menguntungkan kota Persia, Jundi Shapur; banyak ilmuan yang kemudian
meninggalkan Athena, Alexandria dan kota-kota Romawi lainnya lalu memilih untuk
menetap di Jundi Shapur.
6.
Edessa, Harran dan Nisibis: Jalan menuju Baghdad
Di
antara kota tujuan para ilmuan yang meninggalkan Athena dan Alexandria adalah
Edessa dan Harran, dua kota Mesopotamia Utara dimana Kebudayaan Syria Kuno
sudah berkembang sejak awal. Meskipun pada umumnya penduduk daerah ini adalah
penganut Kristen Nestoris, tetapi sebagai sebuah kota ilmiah, para ilmuan pagan
pun mendapat tempat terhormat di sini.[20]
Bahkan kegiatan kota Harran
cenderung lebih didominasi oleh para ilmuan pagan, sedangkan Edessa menjadi
pusat kegiatan intelektual yang didominasi oleh para ilmuan Kristen (Nestoris).
Karya-karya yang diterjemahkan saat ini mencakup bidang-bidang matematika,
astronomi, kedokteran dan filsafat. Pada paruh pertama abad ke-6 M kota Nisibis
memiliki sebuah akademi pendidikan yang mungkin bisa disebut terbaik di dunia
kala itu.
Di sini berlangsung kegiatan
penerjemahan karya-karya penting Yunani dan Sanskerta ke dalam bahasa Persia
lama (Pahlavi) dan bahasa Syria, oleh para ilmuan Syria, Yahudi, Persia dan
lain-lain. Karya-karya yang diterjemahkan antara lain bidang-bidang matematika,
kedokteran, astronomi, dan filsafat.
Kemunduran Alexandria yang
menyebabkan terjadinya eksodus ilmuan berperan besar dalam penyebaran sains ke
daerah-daerah ini. Setelah dimusuhi di belahan Barat, kelompok ini melarikan
diri ke wilayah Syria dan mendirikan sekolah di Edessa. Ketika pada tahun 489
M, kaisar Romawi Timur memerintahkan agar akademi ilmiah Edessa ditutup, para
ilmuan kembali harus pindah, kali ini ke Nisibis, masih di Mesopotamia Utara. [21]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Jazirah
Arab terletak di antara dua kebudayaan besar dunia, yaitu Romawi di Barat dan
Persia di Timur. Jazirah Arab terlepas dari dua kekuatan tersebut, dikarenakan
letak geografis Jazirah Arab yang dikelilingi oleh padang pasir dan lautan
luas, sementara negerinya gersang tidak dialiri oleh sungai dan tidak juga
mendapat siraman air hujan dengan teratur kecuali Yaman di sebelah Selatan.
Masa sebelum kedatangan islam dikenal dengan zaman zahiliyah yakni periode
suatu kemunduran dalam kehidupan beragama. Namun demikian bukan berarti
masyarakat Arab tidak memiliki peradaban.
Tradisi menulis dan pendidikan
bangsa Aarab pra-islam pada dasarnya telah mengembangkan suatu kegiatan sastra
terutama dalam bentuk puisi. Sedangkan pusat kegiatan intelektual di luar
arabia pra-islam diantaranya Atena, Alexansria, Romawi Timur, Kostannopel,
Jundi Shapur, Edessa, Harran, dan Nisbis.
B.
Saran
Sejarah dan peradaban Islam merupakan bagian
penting yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan kaum Muslimin dari masa ke
masa. Betapa tidak, dengan memahami sejarah dengan baik dan benar, kaum
Muslimin bisa bercermin untuk mengambil banyak pelajaran dan membenahi
kekurangan atau kesalahan mereka guna meraih kejayaan dan kemuliaan dunia dan
akhirat.
Sebaik-baik kisah sejarah yang dapat diambil pelajaran dan hikmah
berharga darinya adalah kisah-kisah yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’ân dan
hadits-hadits yang shahîh dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
DAFTAR
PUSTAKA
A.
Latif Osman, Ringkasan Sejarah Islam, Jakarta: Widjaya, 1992.
A.
Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 1, 2, dan 3, Terj. Mukhtar Yahya dan
Sanusi Latief, Jakarta: Al-Husna Zikra, 2000.
Ahmad
Amin, Islam dan Masa ke Masa, Terj. Abu Laila dan Moh. Tohir, Bandung:
Rosdakarya, 1993.
Ajid
Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia islam, Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2009.
Badri
Yatim, Historiografi Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 2000.
Harun
Nasution, Islam Ditinjau dan Berbagai Aspek, Jil. I, Yogyakarta: UI Press,
1985.
Jaih
Mubarak, Sejarah Perada ban Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005.
K.
Ali, Studi Sejarah Islam, Terj. Adang Affandi, Yogyakarta: Binacipta, 1995.
Muhammad
Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Terj. All Audah, Jakarta: pustaka jaya,
1980.
Muhammad
Quthb, Perlulcah Menulis Ulang Sejarah islam?, Jakarta: Gema Insani Prcss,1995.
Philiph
K. Hitti, History.of the Arabs, Terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet
Riyadi, Jakarta: Serambi, 2008.
Syaikh
Shaflyyur Rahman al-Mubaralc, Sirah Nabawiyah, Terj. Kathur Suhardi, Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar, 2009.
W.
Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia; Pengaruh Islam atas Eropa Abad
Pertengahan,Terj. Hendro Prasetyo, Jakarta: Gramedia Pustakan Utama, 2004.
[3] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di
Kawasan Dunia islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2009.
[6] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di
Kawasan Dunia islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2009.
[7] Syaikh Shaflyyur Rahman al-Mubaralc,
Sirah Nabawiyah, Terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2009.
[8] W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban
Dunia; Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan,Terj. Hendro Prasetyo,
Jakarta: Gramedia Pustakan Utama, 2004.
[9] Syaikh
Shaflyyur Rahman al-Mubaralc, Sirah Nabawiyah, Terj. Kathur Suhardi, Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar, 2009.
[12] Ajid
Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia islam, Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2009.
[21] W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban
Dunia; Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan,Terj. Hendro Prasetyo,
Jakarta: Gramedia Pustakan Utama, 2004.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar