MAKALAH
MASA DINASTI ABBASIYAH
Diajukan Untuk Memenuhi dan Melengkapi Tugas
Pada Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Ahmad
Mukhlisin, M.H.I

Disusun Oleh
Abi wisnu ubaidilah
FAKULTAS : SYARIAH DAN
EKONOMI ISLAM
PROGRAM STUDI : PERBANKAN
SYARIAH
SEMESTER : III (TIGA)
INSTITUT AGAMA
ISLAM MA’ARIF (IAIM) NU
METRO-LAMPUNG
2016
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum.Wr.Wb
Puji syukur yang tak
terkira ke hadirat Allah SWT. yang telah
memberikan kasih dan
kemudahan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “Masa Abbasiyah” ini tanpa ada suatu halangan tertentu.
Dalam
penyusunan makalah ini, penulis banyak sekali mendapat bimbingan ataupun saran
serta kritik yang membangun dari berbagai pihak baik secara langsung maupun
tidak langsung.
Penulis
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna adanya
kekurangan dan kejanggalan didalam penulisan karena keterbatasan pengetahuan
yang penulis miliki, oleh karena itu saran dan kritik sangat penulis harapkan
demi kesempurnaan.
Akhirnya
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada
umumnya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Metro, Desember 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah................................................................. 1
B. Rumusan Masalah........................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................. 2
A. Kelahiran
Abbasiyah....................................................................... 2
B. Sistem Politik
dan Bentuk Negara.................................................. 4
C. Sistem Sosial................................................................................... 8
D. Perkembangan
Keagamaan, pengetahuan Sain Dan Teknologi...... 9
E. Keruntuhan
Abbasiyah................................................................... 10
BAB III KESIMPULAN.................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Khalifah Abbasiyah ialah khalifah
islam setelah khalifah Umayyah. Pemerintahan dinasti Abbasiyah dikenal sebagai pemerintahan masa revolusi
islam karena keberhasilan dinasti Abbasiyah dalam memajukan peradaban islam.
Masa daulah
bani Abbasiyah disebut-sebut sebagai masa keemasan islam, atau dikenal dengan
istilah ” The Golden Age”. Dikarenakan pada masa itu umat islam telah
mencapai puncak kejayaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan.
Dan juga berkembangnya berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah dengan
banyaknya penerjemah buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Dengan
mewarisi imperium besar bani Umayyah. Hal ini memungkinkan daulah bani
Abbasiyah dapat mencapai hasil lebih banyak, karena landasan telah dipersiapkan
oleh daulah bani Umayyah yang besar.
Namun
dengan menyokong imperium besar tersebut, justru sebagai penyebab kehancuran
dan tranformasi imperium bani Abbasiyah. Bahkan kehancuran bani Abbasiyah
terjadi disaat berlangsungnya konsolidasi. Disamping itu kemunduran dinasti
Abbasiyah disebabkan hidup mewah para khalifah Abbasiyah dan keluarganya serta
para pejabat pemerintahan karena harta kekayaan yang melimpah dari hasil
wilayah yang luas, ditambah lagi dengan industri olahan yang melimpah dan tanah
yang subur.
B. Rumusan Masalah
- Bagaimana kelahiran dinasti Abbasiyyah?
- Bagaimana sistem politik dan bentuk negara dinasti Abbasiyyah?
- Bagaimana sistem sosial Dinasti Abbasiyah?
- Bagaimana perkembangan Keagamaan, pengetahuan Sain Dan Teknologi?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kelahiran
Abbasiyah
Masa Daulah Abbasiyah adalah masa
keemasan Islam, atau sering disebut dengan istilah “The Golden Age”. Pada masa itu Umat
Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan
kekuasaan.[1]
Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah
lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab.
Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang
menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bani
Abbas mewarisi imperium besar
Bani Umayah. Hal ini memungkinkan
mereka dapat mencapai hasil lebih banyak, karena landasannya telah dipersiapkan
oleh Daulah Bani Umayah yang besar. Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah
terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara; terjadi
kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah
dan para pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran
terhadap ajaran Islam, termasuk salah satunya pengucilan yang dilakukan Bani
Umaiyah terhadap kaum mawali yang menyebabkan ketidak puasan dalam diri mereka
dan akhirnya terjadi banyak kerusuhan .
Bani Abbas telah mulai melakukan
upaya perebutan kekuasaan sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M)
berkuasa. Khalifah itu dikenal memberikan toleransi kepada berbagai kegiatan
keluarga Syiah. Keturunan Bani Hasyim dan Bani Abbas yang ditindas oleh Daulah
Umayah bergerak mencari jalan bebas, dimana mereka mendirikan gerakan rahasia
untuk menumbangkan Daulah Umayah dan membangun Daulah Abbasiyah.
Di bawah pimpinan Imam mereka
Muhammad bin Ali Al-Abbasy mereka bergerak dalam dua fase, yaitu fase sangat
rahasia dan fase terang-terangan dan pertempuran. Selama Imam Muhammad masih
hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. Propaganda dikirim ke seluruh pelosok
negara, dan mendapat pengikut yang banyak, terutama dari golongan-golongan yang
merasa ditindas, bahkan juga dari golongan-golongan yang pada mulanya mendukung
Daulah Umayah. Setelah Imam Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya
Ibrahim, pada masanya inilah bergabung seorang pemuda berdarah Persia yang
gagah berani dan cerdas dalam gerakan rahasia ini yang bernama Abu Muslim
Al-Khurasani. Semenjak masuknya Abu Muslim ke dalam gerakan rahasia Abbasiyah
ini, maka dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan, kemudian cara
pertempuran, dan akhirnya dengan dalih ingin mengembalikan keturunan Ali ke
atas singgasana kekhalifahan, Abu Abbas pimpinan gerakan tersebut berhasil
menarik dukungan kaum Syiah dalam mengobarkan perlawanan terhadap kekhalifahan
Umayah. Abu Abbas kemudian memulai makar dengan melakukan pembunuhan sampai
tuntas semua keluarga Khalifah, yang waktu itu dipegang oleh Khalifah Marwan II
bin Muhammad. Begitu dahsyatnya pembunuhan itu sampai Abu Abbas menyebut
dirinya sang pengalir darah atau As-Saffah. Maka bertepatan pada bulan
Zulhijjah 132 H (750 M) dengan terbunuhnya Khalifah Marwan II di Fusthath,
Mesir dan maka resmilah berdiri Daulah Abbasiyah.[2]
Dalam peristiwa tersebut salah
seorang pewaris takhta kekhalifahan Umayah, yaitu Abdurrahman yang baru berumur
20 tahun, berhasil meloloskan diri ke daratan Spanyol. Tokoh inilah yang kemudian
berhasil menyusun kembali kekuatan Bani Umayah di seberang lautan, yaitu di
keamiran Cordova. Di sana dia berhasil mengembalikan kejayaan kekhalifahan
Umayah dengan nama kekhalifahan Andalusia.
Pada awalnya kekhalifahan Daulah
Abbasiyah menggunakan Kufah sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu Abbas
As-Safah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Kemudian Khalifah penggantinya
Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Di
kota Baghdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai
dunia lebih dari lima abad lamanya. Imperium ini dikenal dengan nama Daulah
Abbasiyah.
Dalam beberapa hal Daulah Abbasiyah
memiliki kesamaan dan perbedaan dengan Daulah Umayah. Seperti yang terjadi pada
masa Daulah Umayah, misalnya, para bangsawan Daulah Abbasiyah cenderung hidup
mewah dan bergelimang harta. Mereka gemar memelihara budak belian serta istri
peliharaan (hareem). Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi ketimbang
mengembangkan nilai-nilai agama Islam . Namun tidak dapat disangkal sebagian
khalifah memiliki selera seni yang tinggi serta taat beragama.
B.
Sistem
Politik dan Bentuk Negara
Khalifah pertama Bani Abbasiyah,
Abdul Abbas yang sekaligus dianggap sebagai pendiri Bani Abbas, menyebut
dirinya dengan julukan Al-Saffah yang berarti Sang Penumpah Darah. Sedangkan
Khalifah Abbasiyah kedua mengambil gelar Al-Mansur dan meletakkan dasar-dasar
pemerintahan Abbasiyah. Di bawah Abbasiyah, kekhalifahan berkembang sebagai
system politik. Dinasti ini muncul dengan bantuan orang-orang Persia yang
merasa bosan terhadap bani Umayyah di dalam masalah sosial ddan pilitik
diskriminas. Khalifah-khalifah Abbasiyah yang memakai gelar ”Imam”, pemimpin
masyarakat muslim bertujuan untuk menekankan arti keagamaan kekhalifahan. Abbasiyah
mencontoh tradisi Umayyah di dalam mengumumkan lebih dari satu putra mahkota
raja.
Al-Mansur dianggap sebagai pendiri
kedua dari Dinasti Abbasiyah. Di masa pemerintahannya Baghdad dibagun menjadi
ibu kota Dinasti Abbasiyah dan merupakan pusat perdagangan serta kebudayaan.
Hingga Baghdad dianggap sebagai kota terpenting di dunia pada saat itu yang
kaya akan ilmu pengetahuan dan kesenian. Hingga beberapa dekade kemudian
dinasti Abbasiyah mencapai masa kejayaan.
Ada beberapa sistem politik yang dijalankan oleh Daulah
Abbasiyah, yaitu
1.
Para
Khalifah tetap dari keturunan Arab murni, sedangkan pejabat lainnya diambil
dari kaum mawalli.
2.
Kota
Bagdad dijadikan sebagai ibu kota negara, ang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi,
sosial dan ataupun kebudayaan serta terbuka untuk siapa saja, termasuk bangsa
dan penganut agama lain.
3.
Ilmu
pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang mulia, yang penting dan sesuatu yang
harus dikembangkan.
4.
Kebebasan
berpikir sebagai hak asasi manusia,[3]
Bentuk Negara
1)
Dinasti Ghaznawi 962-1186
M
Budak-budak Turki yang telah menduduki posisi yang strategis dalam
pemerintahan yang semula menjadi pengawal sultan, Alaptghin, akhirnya menjadi
panglima perang. Pada tahun 961 ia diangkat menjadi penguasa Khurasan. Kemudian
pindah ke timur dan mendirikan Dinasti Ghazni, Afghanistan yang merdeka.
Penguasa yang paling jaya dan kuat dinasti ini adalah Sultan Mahmud Ghaznawi
yang pernah menaklukkan India sebanyak 17 kali dan tiap kali ia memperoleh
kemenangan yang luar biasa. Ia juga menguasai sebagian Asia Tengah dan
Persia. Seperti ia merampas Iraq,
al-Ray, dan Ispaha dari Dinasti Buwaihi.
Di samping gelar Yamin al-Daulah dan Amin
al-Millah dalam sejarah Islam
Mahmudlah yang pertama mendapat gelar Sultan dari khalifah Abbasiyah,
Qader Billah. Pada masanya banyak alim ulama dan ilmuwan kumpul di Ghazni.
Dalam sejarah dinasti Turki inilah yang pertama menghilangkan pengaruh Persia
dalam istana dan jaya karena kekuatan dan dinasti ini hancur, lenyap juga
karena lemah dan loyo akibat penguasa yang lemah. Akhirnya dinasti besar ini
terbagi dalam beberapa wilayah kekuasaan. Di timur berdiri Kesultanan Ghuri,
sedang di barat laut dikuasai oleh dinasti Khan, dan Persia oleh dinasti
Saljuk. Akhirnya tahun 1186 Dinasti Ghazni hilang dari peta Asia.
2)
Dinasti Buwaihi
Untuk melepaskan khalifah dari hegemoni pengaruh Turki, karena tidak tahan
perbuatan kasar dan sikap kasar terhadap penduduk Bagdad, maka khalifah
al-Mustakfi bi Allah (944-946 M) terpaksa mengundang dan meminta bantuan kepada
pemimpin Buwaihi, Ahmad ibn Abu Shuza’ yang beraliran Syi’ah. Sekte ini mundcul
di Dylam, pesisir utara Laut Kaspia sekitar awal abad ke-10 M, kemudian
menguasai Ispahan, Kirman, Ahwas, dan sekitarnya dengan Shiraj sebagai ibu kota.
Ahmad menyerang Baghdad (945
M) dan berhasil mengusir tentara Turki. Akhirnya mereka lari ke Baghdad. Hal ini merupakan peluang besar bagi Ahmad
yang menjadikan khalifah lemah dan bonekanya. Atas namanya, dinasti ini disebut
Dinasti Buwaihi.
Pendiri Buwaihi dengan mengambil gelar Mu’iz al-Daulah dari khalifah
Mustakfi billah, ia memerintah sebagai wazir utama (amir al-umarra) dan
mengambil kekuasan atas orang sunni. Untuk mengurangi hingga menutupi wewenang
khalifah dalam pemerintahannya, Ahmad memakai gelar Sultan. Dengan mencetak
mata uang atas namanya, menyebut namanya dalam khutbah Jumat Muiz manghabisi
kedaulatan khalifah dengan cara ia mencukil mata khalifah menjadi buta dan
mendudukan Mukti, anak khalifah Muktadir sebagai khalifah. Setelah Muiz, puteranya
Iz al-Daulah berkuasa (967 M). Sejak itu, kekuasaan mutlak ada di tangan para
wazir/ sultan dari Dinasti Buwaihi
Kemajuan dalam berbagai bidang dimulai sejak periode Mu’iz, namun pada era
‘Azd al-Daulah dalam berbagai bidang terutama ilmu pengetahuan dan kegiatan
ilmiah maju pesat yang mencapai puncaknya. Daerah kekuasaannya meluas dai
Ispahan sampai Siraj dan dari Laut Kaspia sampai Teluk Persia.
Pada masa Bani Buwaihi ini banyak bermunculan ilmuwan besar, di antaranya
al-Farabi (w 950 M), Ibn Sina (980-1037 M), Al-Farghani, Abd al-Shufi (w 986
M), Ibn Maskawih (w 1030 M), Abu al-A’la al Ma’arri (973-1057 M), dan kelompok
Ikhwan al-Shafa. Jasa Bani Buwaihi juga terlihat dalam pembangunan kanal-kanal,
mesjid-mesjid, dan sejumlah bangunan lainnya. Kemajuan tersebut diimbangi
dengan laju perkembangan ekonomi; pertanian, perdagangan, dan industri,
terutama permadani.
Setelah Mu’iz wafat (983 M) puteranya memakai gelar Shams al-Daulahdan
Shams al-Millah. Terakhir dijatuhkan oleh saudaranya, Sharf al-Daulah (983-989
M). Sesudahnya ia wafat, tidak ada sultan Buwaihi yang cakap semuanya lemah.
Pada masa khalifah, abad ke-25, Qadir bi Allah (991-1031 M), Dinasti Abassiah
terbelah-belah dan berkeping-keping. Demikian juga masanya kekuatan Buwaihi
menuju ke titik kehancuran. Dengan kelemahan mereka megundang orang Saljuk
menguasai politik Bagdad pada 1055 M.
3)
Dinasti Saljuk 1055-1194 M
Dalam Sejarah kekhalifahan Abbasiyah kemunculan Dinasti Saljuk sebagai
suatu kekuatan Turki, berasal dari daerah antara Kirghiztan dan Bukhara. Tahun
1037 M Tughril Beg, cicit pendiri dinasti ini, Saljuk mengalahkan kekuatan
Turki cabang lain, Dinasti Ghazni di Merv, kemudian menguasai hamadan,
Tabaristan, Ray, Ispahan, dan lain-lain.
Pada saat itu para khalifah Abbasiyah sudah gelisah atas perlakuan amir
al-umara dari Buwaihi yang puncaknya ketika Basasiri, panglima perang
Sultan Baha al- Daulah mengumumkan kemerdekaan di Anbar. Kemudian mengepung
khalifah Abassiah di Bagdad dalam khutbah jumat membacakan nama Khalifah
Fatimiah, al-Muntansir 1035-1094 M, menggantikan khalifah, al-Qaim 1031-1075 M.
Dengan permintaan Bantuan Khalifah kepada Tughril, maka ia segera memasuki
Bagdad (1055 M) dan membebaskan khalifah. Dengan suka cita khalifah memberikan
gelar al-Sultan al-Masyriq wa al-Magharib (penguasa Timur dan Barat)
kepadanya. Atas restu Khalifah para sultan Saljuk sebenarnya memerintah secara defacto,
bahkan wilayah kekuasaannya lebih luas dari pada khalifah Bagdad yang hanya
berkuasa di istana saja. Sultan III, Malik Shah 1073-1092 M berkuasa atas wilayah Kashmir di timur dan
Laut Tengah di barat, di utara Georgia dan di selatan adalah Yaman.
Periode inilah kemajuan dalam ilmu pengetahuan terutama lembaga pendidikan
maju pesat, paling masyhur adalah Madrasah Nizamiah, kemudian menjadi
universitas Islam ternama di dunia. Pada masanya telah melahirkan banyak
ilmuwan muslim di antaranya: al-Zamakhsyari dalam bidang tafsir, bahasa, dan
teologi; al-Qusyairi dalam bidang tafsir, Abu Hamid al-Ghazali dalam bidang
teologi; dan Farid al-Din al Aththar dan Umar Khayam dalam bidang sastra.
Bukan hanya mental spiritual, dalam pembangunan fisik pun dinasti Saljuk
banyak meninggalkan jasa. Malik Shah terkenal dengan usaha pembangunan di
bidang yang terakhir ini. Banyak mesjid, jembatan, irigasi dan jalan raya
dibangunnya.
Setelah Malik Shah (w 1092 M), dengan lemahnya para pengganti selanjutnya
wilayah raksasa Saljuk terbagi menjadi 14 kerajaan Islam, sedang kekhalifahan
Abassiah sudah di ambang kehancuran, saat-saat itulah sudah muncul kekuatan
raksasa baru, bangsa Mongol dipelopori oleh Chengis Khan (1162-1227 M).
C.
Sistem
Sosial
Pada masa ini, sistem sosial adalah
sambungan dari masa sebelumnya (Masa Dinasti Umaiyah). Akan tetapi, pada masa
ini terjadi beberapa perubahan yang sangat mencolok, yaitu
a.
Tampilnya
kelompok mawali dalam pemerintahan serta mendapatkan tempat yang sama dalam
kedudukan social
b.
Kerajaan
Islam Daulah Abbasiyah terdiri dari beberapa bangsa ang berbeda-beda (bangsa
Mesir, Syam, Jazirah Arab dll.)
c.
Perkawina
campur yang melahirkan darah campuran
d.
Terjadinya
pertukaran pendapat, sehingga muncul kebudayaan baru.[4]
D.
Perkembangan
Keagamaan, pengetahuan Sain Dan Teknologi
Pada masa Abbasiyah, ilmu dan metode tafsir mulai berkembang, terutama dua
metode penafsiran, yaitu Tafsir bil al-Ma’tsur dan Tafsir bi al-Ra’yi.
Dalam bidang Hadits, mulai dikenal ilmu pengklasifikasian Hadits secara
sistematis dan kronologis seperti, Shahih, Dhaif, dan Madhu’.
Bahkan juga sudah diketemukan kritik Sanad, dan Matan, sehingga
terlihat Jarrah dan Takdil Rawi yang meriwayatkan Hadits
tersebut.
Dalam bidang Fiqh, lahir Fuqaha seperti Imam Hanafi (700-767 M), seorang
hakim agung dan pendiri Madzhab Hanafi, Malik Ibn Anas (713-795 M), Muhammad
Ibn Idris as-Syafi’i (767-820 M), Imam Ahmad
Ibn Hambal (780-855 M).
Ilmu Lughah juga berkembang dengan pesat karena bahasa Arab semakin
dewasa dan memerlukan suatu ilmu bahasa yang
menyeluruh. Ilmu bahasa yang dimaksud adalah Nahwu, Sharaf, Ma’ani, Bayan,
Badi’, Arudh, dan Insya.
Adapun kemajuan yang dicapai umat Islam pada masa Dinasti Abbasiyah dalam
bidang ilmu Pengetahuan, sains dan teknologi adalah :
1.
Astronomi, Muhammad Ibn Ibrahim al-Fazari (w. 777 M), ia adalah astronom muslim pertama yang
membuat astrolabe, yaitu alat untuk mengukur ketinggian bintang. Disamping itu,
masih ada ilmuwan-ilmuwan Islam lainnya, seperti Ali Ibn Isa al-Asturlabi,
al-Farghani, al-Battani, al-Khayyam dan al-Tusi.
2.
Kedokteran, pada masa ini dokter pertama yang
terkenal adalah Ali Ibn Rabban al-Tabari pengarang buku Firdaus al-Hikmah
tahun 850 M, tokoh lainnya adalah ak-razi, al-Farabi, dan Ibn Sina.
3.
Ilmu Kimia, bapak kimia Islam adalah Jabir Ibn
Hayyan (w. 815 M), al-Razi, dan al-Tuqrai yang hidup pada abad ke 12 M.
E.
Keruntuhan Abbasiyah
Menurut Dr. Badri
yatim, M.A., diantara hal yang menyebabkan kemunduran daulah Bani Abbasiyah
adalah sebagai berikut :
1. Persaingan Antar bangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani
Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi
oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa bani Umayyah berkuasa.
Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan
sejak awal khilafah Abbasiyah berdiri
2.
Kemerosotan Ekonomi
Khilafah Abbasiyah juga mengalami
kemunduran di bidang ekonomi bersamaan
dengan kemunduran di bidang politik
3.
Konflik Keagamaan
Fanatisme keagamaan terkait erat
dengan persoalan kebangsaan. Konflik yang muncul menjadi isu sentra sehingga
menyebabkan perpecahan. Berbagai alirn keagamaan seperti Mu’tazilah, Syi’ah,
Ahlus Sunnah, dan kelompok-kelompok lainnya menjadikan pemerintahan Abbasiyah
mengalami kesulitan untuk mempersatukan berbagai faham keagamaan yang ada.
4.
Perang Salib
Merupakan sebab dari eksternal umat
Islam. Perang salib yang berlangsung beberapa gelombang banyak menelan korban.
Konsentrasi pemerintahan Abbasiyah terpecah belah untuk menghadapi tentara
Salib sehingga memunculkan kelemahan-kelemahan
5.
Serangan Bangsa Mongol
Kebesaran, keagungan, kemegahan, dan
gemerlapnya Baghdad sebagai pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah seolah hanyut
dibawa sungai Tigris, setelah kota itu dibumihanguskan oleh tentara Mongol di
bawah Hulagu Khan pada tahun 1258 M. semua bangunan kota termasuk istana emas
tersebut dihancurkan pasukan Mongol, meruntuhkan perpustakaan yang merupakan
gudang ilmu, dan membakar buku yang ada di dalamnya. Pada tahun 1400 M, kota
ini diserang pula oleh pasukan Timur Lenk dan pada tahun 1508 M oleh tentara
kerajaan Syafawi.[5]
Khalifah Bani
Abbasiyah yang terakhir dengan keluarganya, Al-Mu’tashim Billah dibunuh,
buku-buku yang terkumpul di Baitul Hikmah dibakar dan dibuang ke sungai Tigris
sehingga berubahlah warna air sungai tersebut yang jernih bersih menjadi hitam
kelam karena lunturan tinta yang ada pada buku-buku itu. Dengan demikian,
lenyaplah Dinasti Abbasiyah yang telah memainkan peran penting dalam percaturan
kebudayaan dan peradaban Islam dengan gemilang.
BAB III
KESIMPULAN
Dinamakan khilafah bani Abbasiyah karena para pendiri
dan penguasanya adalah keturunan al Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini
didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas.
Berdirinya Dinasti ini tidak terlepas dari keamburadulan Dinasti sebelumny,
dinasti Umaiyah.
Pada mulanya ibu kota negera adalah al-Hasyimiyah dekat
kufah. Namun untuk lebih memantapkan dan menjaga setabilitas Negara al-Mansyur
memindahkan ibu kota Negara ke Bagdad. Dengan demikian pusat pemerintahan
dinasti Abasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Al-Mansyur melakukan
konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal
untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif.
Puncak perkembangan dinasti Abbasiyah tidak seluruhnya
berawal dari kreatifitas penguasa Bani Abbasiyah sendiri. Sebagian diantaranya
sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan misalnya di
awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Namun lembaga-lembaga
ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abas dengan berdirinya
perpustakaan dan akademi.
Pada beberapa dekade terakhir, daulah Abbasiyah mulai
mengalami kemunduran, terutama dalam bidang politiknya, dan akhirnya membawanya
pada perpecahan yang menjadi akhir sejarah daulah abbasiyah.
DAFTAR PUSTAKA
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban
Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.2008
Badri Yatim, Sejarah Peradaban
Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2008