Minggu, 04 Juni 2017

MASA DINASTI ABBASIYAH



MAKALAH

MASA DINASTI ABBASIYAH

Diajukan Untuk Memenuhi dan Melengkapi Tugas
Pada Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu: Ahmad Mukhlisin, M.H.I





Disusun Oleh
Abi wisnu ubaidilah

FAKULTAS : SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
PROGRAM STUDI : PERBANKAN SYARIAH
SEMESTER : III (TIGA)


INSTITUT AGAMA ISLAM MA’ARIF (IAIM) NU
METRO-LAMPUNG
2016

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum.Wr.Wb
Puji syukur yang tak terkira ke hadirat Allah SWT. yang telah  memberikan  kasih dan kemudahan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “Masa Abbasiyahini tanpa ada suatu halangan tertentu.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak sekali mendapat bimbingan ataupun saran serta kritik yang membangun dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna adanya kekurangan dan kejanggalan didalam penulisan karena keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki, oleh karena itu saran dan kritik sangat penulis harapkan demi kesempurnaan.
Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Metro,  Desember 2016




Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................    i
KATA PENGANTAR.....................................................................................    ii
DAFTAR ISI....................................................................................................    iii
BAB I    PENDAHULUAN............................................................................... 1
A.    Latar Belakang Masalah................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah........................................................................... 1
BAB II   PEMBAHASAN.................................................................................. 2
A.    Kelahiran Abbasiyah....................................................................... 2
B.     Sistem Politik dan Bentuk Negara.................................................. 4
C.     Sistem Sosial................................................................................... 8
D.    Perkembangan Keagamaan, pengetahuan Sain Dan Teknologi...... 9
E.     Keruntuhan Abbasiyah................................................................... 10
BAB III KESIMPULAN.................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 13

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Khalifah Abbasiyah ialah khalifah islam setelah khalifah Umayyah. Pemerintahan dinasti Abbasiyah dikenal sebagai pemerintahan masa revolusi islam karena keberhasilan dinasti Abbasiyah dalam memajukan peradaban islam.
Masa daulah bani Abbasiyah disebut-sebut sebagai masa keemasan islam, atau dikenal dengan istilah ” The Golden Age”. Dikarenakan pada masa itu umat islam telah mencapai puncak kejayaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Dan juga berkembangnya berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah dengan banyaknya penerjemah buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Dengan mewarisi imperium besar bani Umayyah. Hal ini memungkinkan daulah bani Abbasiyah dapat mencapai hasil lebih banyak, karena landasan telah dipersiapkan oleh daulah bani Umayyah yang besar.
Namun dengan menyokong imperium besar tersebut, justru sebagai penyebab kehancuran dan tranformasi imperium bani Abbasiyah. Bahkan kehancuran bani Abbasiyah terjadi disaat berlangsungnya konsolidasi. Disamping itu kemunduran dinasti Abbasiyah disebabkan hidup mewah para khalifah Abbasiyah dan keluarganya serta para pejabat pemerintahan karena harta kekayaan yang melimpah dari hasil wilayah yang luas, ditambah lagi dengan industri olahan yang melimpah dan tanah yang subur.

B.     Rumusan Masalah
  1. Bagaimana kelahiran dinasti Abbasiyyah?
  2. Bagaimana sistem politik dan bentuk negara dinasti Abbasiyyah?
  3. Bagaimana sistem sosial Dinasti Abbasiyah?
  4. Bagaimana perkembangan Keagamaan, pengetahuan Sain Dan Teknologi?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kelahiran Abbasiyah
Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam, atau sering disebut dengan istilah The Golden Age. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan.[1] Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bani Abbas mewarisi imperium besar
Bani Umayah. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak, karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar. Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara; terjadi kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam, termasuk salah satunya pengucilan yang dilakukan Bani Umaiyah terhadap kaum mawali yang menyebabkan ketidak puasan dalam diri mereka dan akhirnya terjadi banyak kerusuhan .
Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Khalifah itu dikenal memberikan toleransi kepada berbagai kegiatan keluarga Syiah. Keturunan Bani Hasyim dan Bani Abbas yang ditindas oleh Daulah Umayah bergerak mencari jalan bebas, dimana mereka mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Daulah Umayah dan membangun Daulah Abbasiyah.
Di bawah pimpinan Imam mereka Muhammad bin Ali Al-Abbasy mereka bergerak dalam dua fase, yaitu fase sangat rahasia dan fase terang-terangan dan pertempuran. Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. Propaganda dikirim ke seluruh pelosok negara, dan mendapat pengikut yang banyak, terutama dari golongan-golongan yang merasa ditindas, bahkan juga dari golongan-golongan yang pada mulanya mendukung Daulah Umayah. Setelah Imam Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim, pada masanya inilah bergabung seorang pemuda berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas dalam gerakan rahasia ini yang bernama Abu Muslim Al-Khurasani. Semenjak masuknya Abu Muslim ke dalam gerakan rahasia Abbasiyah ini, maka dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan, kemudian cara pertempuran, dan akhirnya dengan dalih ingin mengembalikan keturunan Ali ke atas singgasana kekhalifahan, Abu Abbas pimpinan gerakan tersebut berhasil menarik dukungan kaum Syiah dalam mengobarkan perlawanan terhadap kekhalifahan Umayah. Abu Abbas kemudian memulai makar dengan melakukan pembunuhan sampai tuntas semua keluarga Khalifah, yang waktu itu dipegang oleh Khalifah Marwan II bin Muhammad. Begitu dahsyatnya pembunuhan itu sampai Abu Abbas menyebut dirinya sang pengalir darah atau As-Saffah. Maka bertepatan pada bulan Zulhijjah 132 H (750 M) dengan terbunuhnya Khalifah Marwan II di Fusthath, Mesir dan maka resmilah berdiri Daulah Abbasiyah.[2]
Dalam peristiwa tersebut salah seorang pewaris takhta kekhalifahan Umayah, yaitu Abdurrahman yang baru berumur 20 tahun, berhasil meloloskan diri ke daratan Spanyol. Tokoh inilah yang kemudian berhasil menyusun kembali kekuatan Bani Umayah di seberang lautan, yaitu di keamiran Cordova. Di sana dia berhasil mengembalikan kejayaan kekhalifahan Umayah dengan nama kekhalifahan Andalusia.
Pada awalnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan Kufah sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu Abbas As-Safah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Kemudian Khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Di kota Baghdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. Imperium ini dikenal dengan nama Daulah Abbasiyah.
Dalam beberapa hal Daulah Abbasiyah memiliki kesamaan dan perbedaan dengan Daulah Umayah. Seperti yang terjadi pada masa Daulah Umayah, misalnya, para bangsawan Daulah Abbasiyah cenderung hidup mewah dan bergelimang harta. Mereka gemar memelihara budak belian serta istri peliharaan (hareem). Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi ketimbang mengembangkan nilai-nilai agama Islam . Namun tidak dapat disangkal sebagian khalifah memiliki selera seni yang tinggi serta taat beragama.

B.     Sistem Politik dan Bentuk Negara
Khalifah pertama Bani Abbasiyah, Abdul Abbas yang sekaligus dianggap sebagai pendiri Bani Abbas, menyebut dirinya dengan julukan Al-Saffah yang berarti Sang Penumpah Darah. Sedangkan Khalifah Abbasiyah kedua mengambil gelar Al-Mansur dan meletakkan dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah. Di bawah Abbasiyah, kekhalifahan berkembang sebagai system politik. Dinasti ini muncul dengan bantuan orang-orang Persia yang merasa bosan terhadap bani Umayyah di dalam masalah sosial ddan pilitik diskriminas. Khalifah-khalifah Abbasiyah yang memakai gelar ”Imam”, pemimpin masyarakat muslim bertujuan untuk menekankan arti keagamaan kekhalifahan. Abbasiyah mencontoh tradisi Umayyah di dalam mengumumkan lebih dari satu putra mahkota raja.
Al-Mansur dianggap sebagai pendiri kedua dari Dinasti Abbasiyah. Di masa pemerintahannya Baghdad dibagun menjadi ibu kota Dinasti Abbasiyah dan merupakan pusat perdagangan serta kebudayaan. Hingga Baghdad dianggap sebagai kota terpenting di dunia pada saat itu yang kaya akan ilmu pengetahuan dan kesenian. Hingga beberapa dekade kemudian dinasti Abbasiyah mencapai masa kejayaan.
Ada beberapa sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Abbasiyah, yaitu
1.      Para Khalifah tetap dari keturunan Arab murni, sedangkan pejabat lainnya diambil dari kaum mawalli.
2.      Kota Bagdad dijadikan sebagai ibu kota negara, ang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan ataupun kebudayaan serta terbuka untuk siapa saja, termasuk bangsa dan penganut agama lain.
3.      Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang mulia, yang penting dan sesuatu yang harus dikembangkan.
4.      Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia,[3]
Bentuk Negara
1)      Dinasti Ghaznawi 962-1186 M
Budak-budak Turki yang telah menduduki posisi yang strategis dalam pemerintahan yang semula menjadi pengawal sultan, Alaptghin, akhirnya menjadi panglima perang. Pada tahun 961 ia diangkat menjadi penguasa Khurasan. Kemudian pindah ke timur dan mendirikan Dinasti Ghazni, Afghanistan yang merdeka. Penguasa yang paling jaya dan kuat dinasti ini adalah Sultan Mahmud Ghaznawi yang pernah menaklukkan India sebanyak 17 kali dan tiap kali ia memperoleh kemenangan yang luar biasa. Ia juga menguasai sebagian Asia Tengah dan Persia.  Seperti ia merampas Iraq, al-Ray, dan Ispaha dari Dinasti Buwaihi.
Di samping gelar Yamin al-Daulah dan Amin al-Millah dalam sejarah Islam Mahmudlah yang pertama mendapat gelar Sultan dari khalifah Abbasiyah, Qader Billah. Pada masanya banyak alim ulama dan ilmuwan kumpul di Ghazni. Dalam sejarah dinasti Turki inilah yang pertama menghilangkan pengaruh Persia dalam istana dan jaya karena kekuatan dan dinasti ini hancur, lenyap juga karena lemah dan loyo akibat penguasa yang lemah. Akhirnya dinasti besar ini terbagi dalam beberapa wilayah kekuasaan. Di timur berdiri Kesultanan Ghuri, sedang di barat laut dikuasai oleh dinasti Khan, dan Persia oleh dinasti Saljuk. Akhirnya tahun 1186 Dinasti Ghazni hilang dari peta Asia.
2)      Dinasti Buwaihi
Untuk melepaskan khalifah dari hegemoni pengaruh Turki, karena tidak tahan perbuatan kasar dan sikap kasar terhadap penduduk Bagdad, maka khalifah al-Mustakfi bi Allah (944-946 M) terpaksa mengundang dan meminta bantuan kepada pemimpin Buwaihi, Ahmad ibn Abu Shuza’ yang beraliran Syi’ah. Sekte ini mundcul di Dylam, pesisir utara Laut Kaspia sekitar awal abad ke-10 M, kemudian menguasai Ispahan, Kirman, Ahwas, dan sekitarnya dengan Shiraj sebagai ibu kota.
Ahmad menyerang Baghdad (945 M) dan berhasil mengusir tentara Turki. Akhirnya mereka lari ke Baghdad. Hal ini merupakan peluang besar bagi Ahmad yang menjadikan khalifah lemah dan bonekanya. Atas namanya, dinasti ini disebut Dinasti Buwaihi.
Pendiri Buwaihi dengan mengambil gelar Mu’iz al-Daulah dari khalifah Mustakfi billah, ia memerintah sebagai wazir utama (amir al-umarra) dan mengambil kekuasan atas orang sunni. Untuk mengurangi hingga menutupi wewenang khalifah dalam pemerintahannya, Ahmad memakai gelar Sultan. Dengan mencetak mata uang atas namanya, menyebut namanya dalam khutbah Jumat Muiz manghabisi kedaulatan khalifah dengan cara ia mencukil mata khalifah menjadi buta dan mendudukan Mukti, anak khalifah Muktadir sebagai khalifah. Setelah Muiz, puteranya Iz al-Daulah berkuasa (967 M). Sejak itu, kekuasaan mutlak ada di tangan para wazir/ sultan dari Dinasti Buwaihi
Kemajuan dalam berbagai bidang dimulai sejak periode Mu’iz, namun pada era ‘Azd al-Daulah dalam berbagai bidang terutama ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah maju pesat yang mencapai puncaknya. Daerah kekuasaannya meluas dai Ispahan sampai Siraj dan dari Laut Kaspia sampai Teluk Persia.
Pada masa Bani Buwaihi ini banyak bermunculan ilmuwan besar, di antaranya al-Farabi (w 950 M), Ibn Sina (980-1037 M), Al-Farghani, Abd al-Shufi (w 986 M), Ibn Maskawih (w 1030 M), Abu al-A’la al Ma’arri (973-1057 M), dan kelompok Ikhwan al-Shafa. Jasa Bani Buwaihi juga terlihat dalam pembangunan kanal-kanal, mesjid-mesjid, dan sejumlah bangunan lainnya. Kemajuan tersebut diimbangi dengan laju perkembangan ekonomi; pertanian, perdagangan, dan industri, terutama permadani.
Setelah Mu’iz wafat (983 M) puteranya memakai gelar Shams al-Daulahdan Shams al-Millah. Terakhir dijatuhkan oleh saudaranya, Sharf al-Daulah (983-989 M). Sesudahnya ia wafat, tidak ada sultan Buwaihi yang cakap semuanya lemah. Pada masa khalifah, abad ke-25, Qadir bi Allah (991-1031 M), Dinasti Abassiah terbelah-belah dan berkeping-keping. Demikian juga masanya kekuatan Buwaihi menuju ke titik kehancuran. Dengan kelemahan mereka megundang orang Saljuk menguasai politik Bagdad pada 1055 M.
3)      Dinasti Saljuk 1055-1194 M
Dalam Sejarah kekhalifahan Abbasiyah kemunculan Dinasti Saljuk sebagai suatu kekuatan Turki, berasal dari daerah antara Kirghiztan dan Bukhara. Tahun 1037 M Tughril Beg, cicit pendiri dinasti ini, Saljuk mengalahkan kekuatan Turki cabang lain, Dinasti Ghazni di Merv, kemudian menguasai hamadan, Tabaristan, Ray, Ispahan, dan lain-lain.
Pada saat itu para khalifah Abbasiyah sudah gelisah atas perlakuan amir al-umara dari Buwaihi yang puncaknya ketika Basasiri, panglima perang Sultan Baha al- Daulah mengumumkan kemerdekaan di Anbar. Kemudian mengepung khalifah Abassiah di Bagdad dalam khutbah jumat membacakan nama Khalifah Fatimiah, al-Muntansir 1035-1094 M, menggantikan khalifah, al-Qaim 1031-1075 M. Dengan permintaan Bantuan Khalifah kepada Tughril, maka ia segera memasuki Bagdad (1055 M) dan membebaskan khalifah. Dengan suka cita khalifah memberikan gelar al-Sultan al-Masyriq wa al-Magharib (penguasa Timur dan Barat) kepadanya. Atas restu Khalifah para sultan Saljuk sebenarnya memerintah secara defacto, bahkan wilayah kekuasaannya lebih luas dari pada khalifah Bagdad yang hanya berkuasa di istana saja. Sultan III, Malik Shah 1073-1092 M  berkuasa atas wilayah Kashmir di timur dan Laut Tengah di barat, di utara Georgia dan di selatan adalah Yaman.
Periode inilah kemajuan dalam ilmu pengetahuan terutama lembaga pendidikan maju pesat, paling masyhur adalah Madrasah Nizamiah, kemudian menjadi universitas Islam ternama di dunia. Pada masanya telah melahirkan banyak ilmuwan muslim di antaranya: al-Zamakhsyari dalam bidang tafsir, bahasa, dan teologi; al-Qusyairi dalam bidang tafsir, Abu Hamid al-Ghazali dalam bidang teologi; dan Farid al-Din al Aththar dan Umar Khayam dalam bidang sastra.
Bukan hanya mental spiritual, dalam pembangunan fisik pun dinasti Saljuk banyak meninggalkan jasa. Malik Shah terkenal dengan usaha pembangunan di bidang yang terakhir ini. Banyak mesjid, jembatan, irigasi dan jalan raya dibangunnya.
Setelah Malik Shah (w 1092 M), dengan lemahnya para pengganti selanjutnya wilayah raksasa Saljuk terbagi menjadi 14 kerajaan Islam, sedang kekhalifahan Abassiah sudah di ambang kehancuran, saat-saat itulah sudah muncul kekuatan raksasa baru, bangsa Mongol dipelopori oleh Chengis Khan (1162-1227 M).

C.    Sistem Sosial
Pada masa ini, sistem sosial adalah sambungan dari masa sebelumnya (Masa Dinasti Umaiyah). Akan tetapi, pada masa ini terjadi beberapa perubahan yang sangat mencolok, yaitu
a.       Tampilnya kelompok mawali dalam pemerintahan serta mendapatkan tempat yang sama dalam kedudukan social
b.      Kerajaan Islam Daulah Abbasiyah terdiri dari beberapa bangsa ang berbeda-beda (bangsa Mesir, Syam, Jazirah Arab dll.)
c.       Perkawina campur yang melahirkan darah campuran
d.      Terjadinya pertukaran pendapat, sehingga muncul kebudayaan baru.[4]

D.    Perkembangan Keagamaan, pengetahuan Sain Dan Teknologi
Pada masa Abbasiyah, ilmu dan metode tafsir mulai berkembang, terutama dua metode penafsiran, yaitu Tafsir bil al-Ma’tsur dan Tafsir bi al-Ra’yi. Dalam bidang Hadits, mulai dikenal ilmu pengklasifikasian Hadits secara sistematis dan kronologis seperti, Shahih, Dhaif, dan Madhu’. Bahkan juga sudah diketemukan kritik Sanad, dan Matan, sehingga terlihat Jarrah dan Takdil Rawi yang meriwayatkan Hadits tersebut.
Dalam bidang Fiqh, lahir Fuqaha seperti Imam Hanafi (700-767 M), seorang hakim agung dan pendiri Madzhab Hanafi, Malik Ibn Anas (713-795 M), Muhammad Ibn Idris as-Syafi’i (767-820 M), Imam Ahmad Ibn Hambal (780-855 M).
Ilmu Lughah juga berkembang dengan pesat karena bahasa Arab semakin dewasa dan memerlukan suatu ilmu bahasa yang menyeluruh. Ilmu bahasa yang dimaksud adalah Nahwu, Sharaf, Ma’ani, Bayan, Badi, Arudh, dan Insya.
Adapun kemajuan yang dicapai umat Islam pada masa Dinasti Abbasiyah dalam bidang ilmu Pengetahuan, sains dan teknologi adalah :
1.      Astronomi, Muhammad Ibn Ibrahim al-Fazari (w. 777 M), ia adalah astronom muslim pertama yang membuat astrolabe, yaitu alat untuk mengukur ketinggian bintang. Disamping itu, masih ada ilmuwan-ilmuwan Islam lainnya, seperti Ali Ibn Isa al-Asturlabi, al-Farghani, al-Battani, al-Khayyam dan al-Tusi.
2.      Kedokteran, pada masa ini dokter pertama yang terkenal adalah Ali Ibn Rabban al-Tabari pengarang buku Firdaus al-Hikmah tahun 850 M, tokoh lainnya adalah ak-razi, al-Farabi, dan Ibn Sina.
3.      Ilmu Kimia, bapak kimia Islam adalah Jabir Ibn Hayyan (w. 815 M), al-Razi, dan al-Tuqrai yang hidup pada abad ke 12 M.






E.     Keruntuhan Abbasiyah
Menurut Dr. Badri yatim, M.A., diantara hal yang menyebabkan kemunduran daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut :
1.      Persaingan Antar bangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa bani Umayyah berkuasa. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khilafah Abbasiyah berdiri
2.      Kemerosotan Ekonomi
Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang  ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik
3.      Konflik Keagamaan
Fanatisme keagamaan terkait erat dengan persoalan kebangsaan. Konflik yang muncul menjadi isu sentra sehingga menyebabkan perpecahan. Berbagai alirn keagamaan seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Ahlus Sunnah, dan kelompok-kelompok lainnya menjadikan pemerintahan Abbasiyah mengalami kesulitan untuk mempersatukan berbagai faham keagamaan yang ada.
4.      Perang Salib
Merupakan sebab dari eksternal umat Islam. Perang salib yang berlangsung beberapa gelombang banyak menelan korban. Konsentrasi pemerintahan Abbasiyah terpecah belah untuk menghadapi tentara Salib sehingga memunculkan kelemahan-kelemahan
5.      Serangan Bangsa Mongol
Kebesaran, keagungan, kemegahan, dan gemerlapnya Baghdad sebagai pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah seolah hanyut dibawa sungai Tigris, setelah kota itu dibumihanguskan oleh tentara Mongol di bawah Hulagu Khan pada tahun 1258 M. semua bangunan kota termasuk istana emas tersebut dihancurkan pasukan Mongol, meruntuhkan perpustakaan yang merupakan gudang ilmu, dan membakar buku yang ada di dalamnya. Pada tahun 1400 M, kota ini diserang pula oleh pasukan Timur Lenk dan pada tahun 1508 M oleh tentara kerajaan Syafawi.[5]
Khalifah Bani Abbasiyah yang terakhir dengan keluarganya, Al-Mu’tashim Billah dibunuh, buku-buku yang terkumpul di Baitul Hikmah dibakar dan dibuang ke sungai Tigris sehingga berubahlah warna air sungai tersebut yang jernih bersih menjadi hitam kelam karena lunturan tinta yang ada pada buku-buku itu. Dengan demikian, lenyaplah Dinasti Abbasiyah yang telah memainkan peran penting dalam percaturan kebudayaan dan peradaban Islam dengan gemilang.

BAB III
KESIMPULAN

Dinamakan khilafah bani Abbasiyah karena para pendiri dan penguasanya adalah keturunan al Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas. Berdirinya Dinasti ini tidak terlepas dari keamburadulan Dinasti sebelumny, dinasti Umaiyah.
Pada mulanya ibu kota negera adalah al-Hasyimiyah dekat kufah. Namun untuk lebih memantapkan dan menjaga setabilitas Negara al-Mansyur memindahkan ibu kota Negara ke Bagdad. Dengan demikian pusat pemerintahan dinasti Abasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Al-Mansyur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif.
Puncak perkembangan dinasti Abbasiyah tidak seluruhnya berawal dari kreatifitas penguasa Bani Abbasiyah sendiri. Sebagian diantaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan misalnya di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Namun lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abas dengan berdirinya perpustakaan dan akademi.
Pada beberapa dekade terakhir, daulah Abbasiyah mulai mengalami kemunduran, terutama dalam bidang politiknya, dan akhirnya membawanya pada perpecahan yang menjadi akhir sejarah daulah abbasiyah.

DAFTAR PUSTAKA

Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.2008
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2008



[1] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.2008, hal. 84
[2] Ibid., hal. 85
[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2008, hal.208
[4] Ibid., hal. 130
[5] Ibid., hal. 136

Tidak ada komentar:

Posting Komentar