BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam telah mencapai masa kejayaan yang luar biasa. Di mulai
dari masa khulafa’ur rosyidin yang dilanjutkan
dengan dinasti Umayyah I hingga Abbasiyah II, kejayaan yang telah dicapai tidak
hanya dalam aspek sosial ekonomi saja, akan tetapi ekspansi wilayah kekuasaan
Islam juga tidak kalah menggemilangkan.
Perluasan daerah Islam bahkan telah mencapai dataran Eropa yang saat
itu berada pada kekuasaan bangsa barat yang tidak bisa dianggap remeh.
Disintegrasi dibidang politik sebenarnya sudah muncul sejak
berakhirnya pemerintahan Bani Umayah, tetapi dalam sejarah politik Islam
terdapat perbedaan antara pemerintahan Bani Umayah dan pemerintahan Abbasiyah.
Perbedaan tersebut ialah masa pemerintahan Bani Umayah, wilayah kekuasaan
sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam (mulai awal berdiri sampai
pada masa kehancurannya).
Pada masa pemerintahan Abbasiyah, wilayah kekuasaannya tidak pernah
diakui di daerah Spanyol dan daerah Aprika Utara. Kecuali mesir yang bersifat
sebentar-sebentar, bahkan pada kenyataannya terdapat banyak daerah yang tidak
dikuasai oleh khalifah.Hal itu dikarenakan seorang khalifah dari Abbasiyah
tidak mengurus daerah yang sudah ditakluan, hanya sekedar penaklukan dan
pendirian saja. Selain itu para kholifah Abbasiyah pada periode terahir
cenderung hidup bermewah-mewah.
Faktor-faktor di atas menyebabkan beberapa golongan yang tidak
sepaham dengan Dinasti Abbasiyah mendirikan negara ataupun kerjaan sendiri.
Diantaranya adalah Thahiriyah di Khurasan, Samaniyah di Transoxania, Buwaihiyah
di Baghdad, Ayubiyah di Kurdi, Fatimiyah di Mesir, hingga Seljuk yang menduduki
lima daerah besar.
Pada mulanya ketika Palestina berada pada kekuasaan Dinasti
Fatimiyah, tidak ada pertentangan dari penduduk pribumi. Karena kerajaan
Fatimiyah memberikan kebebasan penduduk pribumi yang notabene beragama Kristen,
kebebasan yang diberikan berupa jaminan keselamatan dan jaminan kebebasan
menjalankan ritual keagamaan mereka di kota suci Yerussalem. Akan tetapi hal
ini berbeda ketika Yerussalem telah ditaklukkan oleh kerajaan Seljuk.
B. Rumusan
Masalah
- Bagaimana timbulnya perang salib?
- Apa yang melatar belakangi terjadinya Perang Salib?
- Bagaimana periodesasi Perang Salib?
- Bagaimana dampak Perang Salib bagi dunia Islam?
C.
Tujuan
- Mengetahui Timbulnya perang salib
- Mengetahui sebab-sebab terjadinya Perang Salib.
- Mengetahui periodesasi yang terjadi pada Perang Salib.
- Memahami dampak-dampak akibat Perang Salib.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Timbulnya
Perang Salib
Perang Salib merupakan serangkaian kampanye militer berselang dari tahun 1096
sampai 1487 yang disahkan oleh beberapa paus. Pada tahun 1095 Kaisar Bizantium Alexius I Komnenus mengirimkan seorang utusan
kepada Paus Urbanus II untuk meminta dukungan militer
dalam konflik Kekaisaran Romawi Timur dengan bangsa Turk yang melakukan
migrasi ke arah barat di Anatolia (Turki masa kini).[1]
Sang paus menanggapinya dengan memanggil umat Katolik untuk
bergabung dengan apa yang kemudian disebut sebagai Perang Salib Pertama. Salah satu tujuan
yang dinyatakan oleh Paus Urbanus adalah menjamin akses para peziarah ke
tempat-tempat suci di Tanah Suci yang berada di bawah kendali
penguasa Muslim, sementara strateginya yang lebih luas yaitu menyatukan kembali
cabang-cabang Timur dan Barat dari dunia Kekristenan setelah perpecahan mereka pada tahun 1054, serta menetapkan
diri sebagai kepala Gereja yang dipersatukan. Hal ini mengawali suatu
perjuangan yang kompleks selama 200 tahun di wilayah tersebut.
Ratusan ribu orang dari berbagai negara dan kelas yang berbeda di
Eropa Barat menjadi tentara salib dengan mengambil suatu sumpah publik dan
menerima indulgensi
penuh dari gereja tersebut.
Beberapa tentara salib adalah
para petani yang berharap atas pengilahian di Yerusalem.
Paus Urbanus II mengklaim bahwa siapa pun yang ikut serta akan diampuni dosa-dosanya.
Selain menunjukkan pengabdian kepada Allah,
sebagaimana dinyatakan olehnya, keikutsertaan memenuhi kewajiban feodal
dan berkesempatan memperoleh manfaat ekonomi dan politik. Para tentara salib
seringkali menjarah negara-negara yang mereka lalui dalam perjalanan, dan
berlawanan dengan janji-janji mereka, para pemimpin tentara salib menguasai
banyak dari wilayah ini bukan mengembalikannya kepada Bizantium.[2]
Perang Salib Rakyat memicu pembunuhan ribuan
orang Yahudi, yang dikenal sebagai pembantaian Rhineland. Konstantinopel dijarah selama Perang Salib Keempat, sehingga usaha
penyatuan kembali dunia Kristen pada saat itu mustahil terjadi. Pengepungan
tersebut mengakibatkan melemahnya Kekaisaran Bizantium dan akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Kesultanan Ottoman pada tahun 1453. Para penguasa Eropa
Barat tidak memberikan tanggapan yang jelas ketika kubu pertahanan Katolik yang
terakhir di wilayah tersebut, Akko, jatuh
pada tahun 1291.[3]
Ada beragam pendapat terkait perilaku tentara salib, mulai dari yang
sifatnya pujian sampai yang sangat kritis. Dampak dari perang-perang salib
sangat besar; mereka membuka kembali Laut
Mediterania untuk perdagangan dan perjalanan, memungkinkan perkembangan
Genoa
dan Venesia. Para tentara salib melakukan
perdagangan dengan penduduk lokal selama perjalanan mereka, dan para kaisar
Romawi Ortodoks seringkali mengorganisir
pasar-pasar bagi para tentara salib yang bergerak melalui wilayah mereka.
Perang-perang Salib menggabungkan identitas bersama dari Gereja Latin
di bawah kepemimpinan paus, dan dianggap sebagai suatu simbol kepahlawanan,
sikap kesatria, dan kesalehan. Hal ini karenanya melahirkan sastra, filsafat,
dan roman abad pertengahan. Bagaimanapun berbagai perang salib semakin
mengukuhkan hubungan antara militerisme, feodalisme,
dan Katolikisme Barat, yang mana bertentangan dengan Perdamaian
dan Gencatan Senjata demi Allah yang dipromosikan Paus Urbanus.
B. Sebab-sebab
Terjadinya Perang Salib
Perang yang terjadi hampir dua abad
ini adalah timbul karena reaksi orang Kristen terhadap umat Islam yang dianggap
sebagai pihak penyerang. Berdasarkan sejarah yang ada, sejak tahun 632 sampai
meletusnya perang salib beberapa kota penting dan tempat suci umat Kristen
dikuasai oleh umat Islam, seperti Suriah, Asia Kecil, Spanyol, dan Sicilia.
Peristiwa ini merusak hunbungan
antara dunia Timur dan dunia Barat khususnya antara agama islam dan kristen.
Penyerbuan yang berjalan selama dua abad lamanya memakan korban baik jiwa
maupun harta dan kebudayaan yang tidak sedikit banyaknya.Selain itu,masih banyak
lagi dampak dari perang salib ini.Dinamakan Perang Salib, karena setiap orang
Eropa yang ikut bertempur dalam peperangan memakai tanda salib pada bahu,
lencana dan panji-panji mereka.
Istilah ini juga digunakan untuk
ekspedisi-ekspedisi kecil yang terjadi selama abad ke-16 di wilayah di luar
Benua Eropa, biasanya terhadap kaum pagan dan kaum non-Kristiani untuk alasan
campuran; antara agama, ekonomi, dan politik. Skema penomoran tradisional atas
Perang Salib memasukkan 8 ekspedisi besar ke Tanah Suci selama Abad ke-11
sampai dengan Abad ke-13. “Perang Salib” lainnya yang tidak bernomor berlanjut
hingga Abad ke-16 dan berakhir ketika iklim politik dan agama di Eropa berubah
secara signifikan selama masa Renaissance.
Sebab terjadinya Perang Salib adalah
karena kerajaan Seljuk menghalang-halangi kaum Kristen untuk beribadah dan
memperlakukan mereka sebagai golongan marginal yang diperlakukan semena-mena,
selain itu, kaum Islam juga disebut0sebut telah menghina mereka dan agama
mereka. Hingga kaum Kristen melaporkan hal ini kepada Paus Urbanus II pada
tahun 1095.
Setelah Paus Urbanus IImendengar hal
ini, maka Paus Urbanus II langsung mengumpulkan semua umat Kristen dan
menyampaikan pidato terbuka berapi-api di luar sebuah biara Prancis yang
disebut Claremont. Dalam pidatonya Paus Urbanus II mengatakan kepada
majelis bangsawan Jerman, Prancis, dan Italia bahwa dunia Kristen sedang dalam
bahaya. Dan menyeru kepada seluruh umat Kristen untuk membantu sesama umat
Kristen untuk mengusir umat Islam dari Yerussalem dan menyuruh mereka untuk
selalu menggunakan salib, sehingga perang ini dinamakan Crusades (Perang
Salib).
Dalam buku lain disebutkan bahwa
cikal bakal terjadinya Perang Salib adalah karena kehawatiran orang Bizantium
atas serangan Dinasti Seljuk yang ingin menyerang Bizantium yang hendak
menguasai pertanian di Bizantium. Sehingga kaisar Bizantium yakni Alexius
Commenus meminta bantuan Paus Urbanus II untuk menggerakkan kaum Kristen untuk
membantu mereka menghalau kedatangan Seljuk. Paus Urbanus II ahirnya memenuhi
permintaan kaisar Bizantium. Paus Urbanus II kemudian mengumpulkan kaum Kristen
untuk bersatu menyerang kaum Islam.
Dalam pidatonya, Paus Urbanus II
mengobarkan semangat umat kristen dengan cara menyatakan bahwa dengan mengikuti
perang salib maka dosa-dosa yang lalu akan diampuni dan dijamin masuk surga,
selain itu keluarga pejuang perang salib akan mendapat jaminan hidup dan
keselamatan.
Sehingga para pejuang Perang Salib
tidak hanya berasal dari daerah Roma saja, akan tetapi berasal dari
kerajaa-kerajaan di Eropa, mulai dari relawan rakyat biasa, pedagang, petani,
bahkan para perampok yang ingin masuk surga.
Dari beberapa uraian di atas, bisa
disimpulkan bahwa sebab-sebab terjadinya Perang Salib antara lain:
1.
Faktor
Agama
Direbutnya Baitul Maqdis (471 H/
1070 M) oleh Dinasti Seljuk dari kekuasaan Fathimiyah yang berkedudukan di
Mesir menyebabkan kaum Kristen merasa tidak bebas dalam menunaikan ibadah di
tempat sucinya. Karena Dinasti Seljuk menerapkan peraturan yang sangat ketat
kepada para umat Kristiani ketika hendak beribadah di Tanah Suci (Baitul
Maqdis). Hingga mereka yang baru pulang dari beribadah ke Baitul Maqdis selalu
mengeluh akan sikap buruk Dinasti Seljuk yang terlalu fanatik.[4]
Para pemimpin politik Kristen tetap
saja masih berfikir keuntungan yang dapat diambil dari konsepsi mengenai Perang
Salib, dan untuk memperoleh kembali keleluasaannya berziarah ke tanah suci
Yerussalem. Pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristiani di
Eropa supaya melakukan perang suci. Seruan Paus Urbanus II berhasil memikat
banyak orang-orang Kristen karena dia menjanjikan sekaligus menjamin, barang
siapa yang melibatkan diri dalam perang suci tersebut akan terbebas dari
hukuman dosa.
2.
Faktor
Politik
Kekalahan Bizantium
(Constantinople/Istambul) di Manzikart pada tahun 1071 M, dan jatuhnya Asia
kecil dibawah kekuasaan Saljuk telah mendorong Kaisar Alexius I Comneus (kaisar
Bizantium) untuk meminta bantuan Paus Urbanus II, dalam usahanya untuk
mengembalikan kekuasaannya di daerah-daerah pendudukan Dinasti Saljuk. Dilain
pihak Perang Salib merupakan puncak sejumlah konflik antara negara-negara Barat
dan negara-negara Timur, maksudnya antara umat Islam dan umat Kristen.[5]
Dengan perkembagan dan kemajuan yang
pesat menimbulkan kecemasan pada tokoh-tokoh Barat, sehingga mereka melancarkan
serangan terhadap umat Islam. Situasi yang demikian mendorong penguasa-penguasa
Kristen di Eropa untuk merebut satu-persatu daerah-daerah kekuasaan Islam,
seperti Mesir, Yerussalem, Damascus, Edessca dan lain-lainnya.
Selain itu, kondisi kekuasaan Islam
pada saat itu sedang melemah. Sehingga orang-orang Kristen Eropa berani untuk
melakukan pemberontakan dengan cara Perang Salib, yajni ketika Dinasti Seljuk
di Asia Kecil sedang mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiyah di Mesir sedang
dalam keadaan lumpun, sedangakan Islam di Spanyol semakin goyah. Keadaan ini
semakin parah dengan pertentangan segitiga antara kholifah Fatimiyah di Mesir,
kholifah Abbasiyah di baghdad, dan kholifah Umayyah di Cordoba.[6]
3.
Faktor
Sosial
Stratifikasi sosial yang terdapat
pada masyarakat sosial Eropa yang terbagi kepada tiga tingkat, yakni kaum
gereja, kaum bangsawan, dan kaum rakyat jelata. Rakyat jelata dianggap sebagai
kaum marginal dan tidak memiliki kedudukan apapun dalam masyarakat, kehidupan
mereka sangat tertindas dan harus mengikuti apa kata tuan tanah, sehingga
kehidupan mereka selalu dibayang-bayangi rasa kehawatiran.
Dengan adanya seruan untuk Perang
membuat mereka bersemangat. Dengan harapan agar mereka bisa memiliki kedudukan
yang lebih baik lagi, selain itu mereka diberi janji untuk mendapatkan
kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik.
4.
Faktor
Ekonomi
Semenjak abad ke X, kaum muslimin
telah menguasai jalur perdagangan di laut tengah, dan para pedagang Eropa yang
mayoritas Kristen merasa terganggu atas kehadiran pasukan muslimin, sehingga
mereka mempunyai rencana untuk mendesak kekuatan kaum muslimin dari laut itu.
Hal ini didukung dengan adanya
ambisi yang luar biasa dari para pedagang-pedagang besar yang berada di pantai
Timur laut tengah (Venezia, Genoa dan Piza) untuk menguasai sejumlah kota-kota
dagang di sepanjang pantai Timur dan selatan laut tengah, sehingga dapat
memperluas jaringan dagang mereka, Untuk itu mereka rela menanggung sebagian
dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat
perdagangan mereka, karena jalur Eropa akan bersambung dengan rute-rute
perdagangan di Timur melalui jalur strategis tersebut.[7]
Strata sosial juga berpengaruh pada
faktor ekonomi. Hal ini karena ada sebuah tradisi bahwa pewaris harta adalah
anak tertua, ketika anak tertua meninggal maka semua harta akan diserahkan
kepada gereja. Hal ini menyebabkan populasi kemiskinan di Eropa semakin tinggi,
sehingga ketika ada seruan untuk melakukan Perang Salib mereka mendapatkan
secercah harapan untuk perbaikan ekonomi.
Perang Salib merupakan perang suci
bagi umat Kristiani, akan tetapi Perang Salib sebagai perang suci hanyalah
sebagai kedok pemimpin gereja Roma, karena sebenarnya faktor dan tujuan Perang
Salib adalah karena Politik dan Ekonomi. Sehingga beberapa relawan Perang Salib
juga tidak hanya perang atas nama Tuhan, akan tetapi karena kepentingan
masing-masing.[8]
Saat perang Salib, tentara Kristen,
Jerman, Yahudi membantai orang Islam di jalan-jalan. Berbalik 180 derajat
dengan perlakuan pasukan Islam terhadap pasukan Kristen. Padahal Islam biasanya
memperlakukan negara Kristen jajahanya dengan baik dan bahkan mereka diberi
jabatan dalam pemerintahan.
“Pemandangan mengagumkan akan
terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya
menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari
menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam
api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota.
Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah
kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat
dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria
berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.”
Di atas adalah pernyataan dari
Salahuddin al-Ayyubi yang menggambarkan tentang keadaan pada Perang Salib.
Keadaan yang seperti ini pasti akan sangat menggugah hati siapapun yang membaca
dan meresapi seraya membayangkan keadaan umat Islam yang diperlakukan
sedemikian rupa.
C. Periodesasi
Perang Salib
Seperti diketahui sebelumnya bahwa perang salib terjadi
dalam kurun waktu yang tidak sebentar, yakni mulai abad ke 11 hingga abad ke
13. Dalam beberapa referensi ada yang mengatakan bahwa perang salib mempunyai 9
fase, dalam sumber lain disebutkan hanya 8, dan 7 bahkan ada yang menyebutkan
hanya 3 fase. Berikut pemakalah akan memaparkan 9 periodisasi Perang Salib dan
sekilah menjelaskan tentang 3 periode Perang Salib.[9]
1. Perang Salib I (1095-1099 M)
Periode pertama Perang Salib disebut
sebagai periode penaklukan. Jalinan kerja sama antara Kaisar Alexius I dan Paus
Urbanus II, berhasil membangkitkan semangat umat Kristen, terutama akibat
pidato Paus Urbanus II, pada consili clermont pada tanggal 25 November 1095,
pada saat itu Paus Urban II mengatakan “Orang-orang Turki adalah ras yang
terkutut, ras yang sungguh-sungguh jauh dari Tuhan, orang-orang yang hatinya
sungguh tidak mendapat petunjuk dan jiwanya tidak diurus Tuhan. Membunuh para
monster ini adalah tindakan suci, orang Kristen wajib memusnahkan ras keji ini
dari negeri kita.” Sambutan terhadap seruan Paus Urban itu sungguh
luar biasa. Pada musim semi tahun 1096, berangkatlah lima pasukan yang terdiri
atas 60.000 tentara. Gerakan ini merupakan gerakan spontanitas yang diikuti
oleh berbagai kalangan masyarakat Kristiani.[10]
Di sepanjang jalan menuju
Constantinople mereka membuat keonaran bahkan terjadi bentrok dengan penduduk
Hongaria dan Byzantium.
Dengan adanya fenomena ini Dinasti
Seljuk menyatakan perang terhadap gerombolan tersebut, sehingga akhirnya
gerakan pasukan Salib dapat mudah dikalahkan. Berawal dari kekalahan pihak
kristiani Godfrey of Buillon mengambil alih kepemimpinan pasukan Salib,
sehingga mengubah tentara Salib menjadi ekpedisi militer yang terorganisasi
rapi. Dalam peperangan menghadapi pasukan Godfrey, pihak Islam mengalami
kekalahan, sehingga mereka berhasil menduduki Palestina (Yerussalem) pada
tanggal 07 Juni 1099.
Pasukan Godfrey ini melakukan pembantaian
besar-besaran selama satu minggu terhadap umat Islam disamping itu mereka
membumi hanguskan bangunan-bangunan umat Islam, sebelum pasukan ini menduduki
Baitul Maqdis, mereka terlebih dahulu menaklukkan Anatolia, Tartur, Aleppo,
Tripoli, Syam, dan Acre. Kemenangan pasukan Salib dalam periode ini telah
mengubah peta situasi Dunia Islam kawasan itu.
Sebagai akibat dari kemenangan itu,
Kemudian tentara Salib mendirikan empat kerajaan Kristen yaitu di tanah suci
Baitul Maqdis, Enthiokhie, Raha dan Tripolisyam, sedangkan Nicola dikembalikan
pada Kaisar Byzantium.Perang Salib I ditandai oleh bangkitnya kerajaan Seljuk
(Turki) yang memasuki Armenia, Asia kecil dan Syria, kemudian menyapu daerah
kawasan Byzantium (Romawi) memporakporandakan angkatan perangnya di pertempuran
Mazikert dan sepanjang laut tengah yang pada masa Alip Arselan dan Malik Syah,
Yerussalem pun berhasil dikuasai.
2.
Perang
Salib II (1147-1149 M)
Perang Salib II juga terjadi sebab
bangkitnya Bani Seljuk dan jatuhnya Halab (Aleppo), Edessa, dan sebagian negeri
Syam ke tangan Imaddudin Zanky (1144 M). Setelah Imaduddin meninggal, ia
digantikan oleh putranya yang bernama Nuruddin dan dibantu oleh Salahuddin
hingga tahun 1147 M. Perang Salib II ini dipimpin oleh Lode Wiyk VII atau Louis
VII (Raja Perancis), Bernard de Clairvaux dan Concrad III dari Jerman.[11]
Laskar Islam yang terdiri dari
bangsa Turki, Kurdi dan Arab dipimpin oleh Nuruddin Sidi Saefuddin Gazi dan
Mousul dan dipanglimai oleh Salahuddin Yusuf ibn Ayyub. Pada tanggal 4 Juli
1187 terjadi pertempuran antara pasukan Salahuddin dengan tentara Salib di
Hittin dekat Baitul Maqdis. Dalam pertempuran ini kaum muslimin dapat
menghancurkan pasukan Salib, sehingga raja Baitul Maqdis dan Ray Mond tertawan
dan dijatuhi hukuman mati.
Kemenangan Salahuddin dalam
peperangan ini memberikan peluang yang besar untuk merebut kota-kota lainnya,
termasuk Baitul Maqdis, Yerussalem, Al Qudus. Pada saat kota Yerussalem direbut
tentara Salib, mereka melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap orang Islam,
tetapi ketika kota itu direbut kembali oleh Salahuddin, kaum muslimin tidak
melakukan pembalasan terhadap mereka, bahkan memperlakukan mereka dengan baik
dan lemah lembut.
Pada saat Baitul Maqdis kembali ke
tangan Umat Islam kembalilah suara adzan berkumandang dan lonceng gereja
berhenti berbunyi serta Salib emas diturunkan dari kubah sakrah. Dalam periode
ini disebut sebagai periode reaksi umat Islam atas jatuhnya beberapa wilayah
kekuasaan Islam ke tangan tentara Salib telah membangkitkan kesadaran kaum
muslimin untuk menghimpun kekuatan guna menghadapi Tentara Salib.
Di bawah komando Imaduddin Zangi,
Gubernur Mousul, kaum muslimin bergerak maju membendung serangan pasukan Salib
bahkan mereka berhasil merebut kembali Aleppo, Adessa (Ar-Ruha’) pada tahun
1144 M. Setelah Imaduddin Zangi wafat, posisinya digantikan putranya Nuruddin
Zangi, dia meneruskan perjuangan ayahnya untuk membebaskan negara-negara Timur
dari cengkraman Tentara Salib. Kota-kota yang berhasil dibebaskan antara lain
Damaskus (1147 M), Antiok (1149 M) dan Mesir (1169 M).
Keberhasilan kaum muslimin meraih
berbagai kemenangan, terutama setelah munculnnya Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi
(Salahuddin) di Mesir, yang berhasil membebaskan Baitul Maqdis pada tanggal 2
Oktober 1187. Hal ini membuat Tentara Salib untuk membangkitkan kembali basik
kekuatan mereka sehingga mereka menyusun kekuatan dan mengirim ekspedisi
militer yang lebih kuat. Dalam ekspedisi ini dikomando oleh raja-raja Eropa
yang besar, Frederick I (The Lion Heart, Raja Inggris) dan Philip II (Augustus,
Raja Prancis).[12]
Ekpedisi militer Salib kali ini
dibagi dalam beberapa devisi, sebagian menempuh jalan darat dan yang lainnya
menempuh jalur laut. Frederick yang memimpin devisi darat tewas tenggelam dalam
penyebrangannya di sungai Armenia, dekat kota Ar-Ruha’, sebagian tentaranya
kembali kecuali beberapaorang yang terus melanjutkan perjalanannya di bawah
pimpinan putra Frederick. Adapun devisi yang menempuh jalur laut menuju Sicilia
yang dipimpin Richard dan Philip II, disana mereka bertemu dengan pasukan
Salahuddin, terjadilah peperangan sengit, karena kekuatan tidak berimbang, maka
pasukan Salahuddin mundur, dan Kota Acre ditinggalkan oleh pasukan Salahuddin
dan menuju ke Mesir untuk mempertahankan daerah itu.
Dalam keadaan demikian kedua belah pihak
melakukan gencatan senjata dan membuat suatu perjanjian damai, inti perjanjian
damai tersebut adalah: “Daerah pedalaman akan menjadi milik kaum muslimin dan
umat Kristen, yang akan berziarah ke Baitul Maqdis akan terjamin keamanannya,
sedangkan daerah pesisir utara, Acre dan Jaffa berada di daerah kekuasaan
tentara Salib.” Tidak lama kemudian setelah perjanjian disepakati, Salahuddin
wafat pada bulan Safar 589 H atau Februari 1193 M.
3.
Perang
Salib III (1187-1191 M)
Setelah
Salahuddin wafat, dan digantikan oleh saudaranya Sultan Adil. Salahuddin wafat
setelah berhasil mempersatukan umat Islam dan mengembalikan Baitul Maqdis ke
tangan umat Islam. Periode ini lebih dikenal dengan periode perang saudara
kecil-kecilan atau periode kehancuran di dalam pasukan Salib sendiri. Hal ini
disebabkan karena periode ini lebih disemangati oleh ambisi politik untuk
memperoleh kekuasaan dan sesuatu yang bersifat material, dari motivasi agama.
Tujuan mereka untuk membebaskan
Baitul Maqdis seolah-olah mereka lupakan, hal ini dapat dilihat ketika pasukan
Salib yang disiapkan menyerang Mesir (1202-1204 M) ternyata mengubah haluan
menuju Constantinople, kota ini direbut dan diduduki lalu dikuasai oleh Baldwin
sebagai rajanya yang pertama.
Dalam periode ini telah terukir
dalam sejarah yaitu munculnya pahlawan wanita yang terkenal dan gagah berani
yaitu Syajar Ad-Durr, dia berhasil menghancurkan pasukan Raja Lois IX, dari
Prancis dan sekaligus menangkap raja tersebut. Dalam periode ini pasukan Salib
selalu menderita kekalahan.
Meskipun demikian mereka telah
mendapatkan hikmah yang sangat besar, mereka dapat mengetahui kebudayaan dan
peradaban Islam yang sudah sedemikian majunya, bahkan kebudayaan dari
Timur-Islam menyebabkan lahirnya renaisansce di Barat.
4.
Perang
Salib IV (1202-1204 M)
Tentara Salib berpendapat bahwa
jalan untuk merebut kembali Baitul Maqdis adalah harus dikuasai terlebih dahulu
keluarga Bani Ayyub di Mesir yang menjadi pusat persatuan Islam ketika itu.
Oleh karena itu Tentara Salib memusatkan perhatian dan kekuatannya untuk
menguasai Mesir. Akan tetapi Perang Salib IV ini dilakukan atas kerja sama
dengan Venesia dan bekas kaisar Yunani. Tentara Salib menguasai Konstatinopel
(1204 M) dan mengganti kekuasaan Bizantium dengan kekuasaan latin disana. Pada
waktu itu Mesir diperintah oleh Sultan Salib, maka dikuatkanlah perjanjian
dengan orang-orang Kristen pada tahun 1203-1204 M dan 1210-1211 M. Isi
perjanjian itu adalah mempermudah orang Kristen ziarah ke Baitul Maqdis dan
menghilangkan permusuhan antara kedua belah pihak.
5.
Perang
Salib V (1217–1221 M)
Perang Salib V tetap berada di
Konstantinopel dan tidak henti-hentinya terjadi konflik dengan pihak Kaisar.
Perang Salib V dipimpin oleh Jeande Brunne Kardinal Pelagius serta raja
Hongaria, meskipun pada tanggal 5 November 1219 kota pelabuhan Damietta mereka
rebut, namun dalam perjalanan ke Kairo pada tanggal 24 Juli 1221 mereka membuat
kekacauan di Al Masyura ( tepi sungai Nil) kemudian mereka pulang kampong.
6.
Perang
Salib VI (1228–1229 M)
Perang Salib VI dipimpin oleh
Frederick II dari Hobiens Taufen, Kaisar Jerman dan raja Itali dan kemudian
menjadi Raja muda Yerussalem lantaran berhasil menguasai Yerussalem tidak
dengan perang tapi dengan perjanjian damai selama 10 tahun dengan Sultan
Al-Malikul Kamil, keponakan Salahuddin al-Ayyubi, namun 14 tahun kemudian yakni
pada tahun 1244 kekuasaan diambil alih Sultan Al Malikul Shaleh Najamuddin
Ayyub beserta Kallam dan Damsyik.
7.
Perang
Salib VII (1248–1254 M)
Peperangan ini dipimpin oleh Raja
Louis IX dari Perancis pada tahun 1248, namun pada tahun 1249 tentara Salib
berhasil menguasai Damietta (Damyat). Dimasa inilah pemimpin angkatan perang
Islam, Malikul Shaleh mangkat kemudian digantikan putranya Malikul Asraff
Muzafaruddin Musa. Ketika Louis IX gagal merebut Antiock yang dikuasai Sultan
Malik Zahir Bay Bars pada tahun 1267/1268, lalu hendak merebut Tunis, ia
beserta pembesar-pembesar pengiringnya ditawan oleh pasukan Islam pada 6 April
1250 dalam satu pertempuran di Perairan Mesir, setelah mereka memberi uang tebusan,
maka mereka dibebaskan oleh Tentara Islam dan mereka balik ke negerinya.
8.
Perang
Salib VIII (1270 M)
Dalam Perang Salib VIII yaitu pada
tanggal 25 Agustus 1270 ini Louis IX telah binasa ditimpa penyakit (riwayat
lain menyebutkan ia terbunuh). Akhirnya pada tahun 1492 Raja Ferdinad dan Ratu
Isabella sukses menendang habis umat Islam dari Granada, Andalusia.
Riwayat lain juga menjelaskan bahwa
Perang Salib VIII ini tidak sempat terbentuk karena kota terakhir yakni Aere
yang diduduki oleh tentara Salib malahan berhasil dikuasai oleh Malikul Asyraf
(putra Malikul Shaleh). Dengan demikian terkuburlah Perang Salib oleh Perang
Sabil. Tetapi meskipun Perang Konvensional dan Frontal itu sudah berakhir
secara formal, namun sesungguhnya perang jenis lain yang kwalitasnya lebih
canggih terus saja berlangsung seiring dengan kemajuan zaman.
9.
Perang
Salib IX (1271-1291 M)
Pada tahun 1219 M, meletus kembali
peperangan yang dikenal dengan Perang Salib periode keenam, dimana tentara
Kristen dipimpin oleh raja Jerman, Frederik
II,
mereka berusaha merebut Mesir lebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan dapat bantuan dari
orang-orang Kristen
Koptik.
Dalam serangan tersebut, mereka berhasil menduduki Dimyath, raja Mesir dari Dinasti Ayyubiyah waktu itu, al-Malik
al-Kamil,
membuat penjanjian dengan Frederick. Isinya antara lain Frederick bersedia
melepaskan Dimyath, sementara al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina, Frederick
menjamin keamanan kaum muslimin di sana, dan Frederick tidak
mengirim bantuan kepada Kristen di Syria. Dalam perkembangan berikutnya,
Palestina dapat direbut kembali oleh kaum muslimin tahun 1247 M, pada masa
pemerintahan al-Malik
al-Shalih,
penguasa Mesir selanjutnya.
Ketika Mesir dikuasai oleh Dinasti Mamalik yang menggantikan posisi Dinasti Ayyubiyyah, pimpinan perang dipegang oleh Baibars, Qalawun, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum
Muslim tahun 1291 M. Demikianlah Perang Salib yang berkobar di Timur. Perang
ini tidak berhenti di Barat, di Spanyol, sampai umat Islam terusir dari sana.
Merupakan satu aspek usaha penyingkiran
lembaga-lembaga pribumi atau Islam dengan menggantikan sejarah setempat dengan
kurikulum Barat. Dalam peperangan lanjutan ini pihak Kristen juga mengalami
kekalahan, akan tetapi orang-orang Kristen dengan segala bentuk dan cara
berusaha menghancurkan Islam baik melalui politik, ekonomi dan pendidikan.
D.
Jalannya
Perang Salib
Jalannya Perang salib tidaklah cukup
untuk menggambarkan betapa orang Barat ingin menghancurkan Islam. Berikut
adalah ringkasan dari sembilan periode di atas, yang disususn menjadi tiga
periode.
1. Peiode Pertama
Periode pertama, disebut periode
penaklukan (1009-1144). Hassan Ibrahim Hassan dalam buku Tarikh Al-Islam
menggambarkan pasukan salib pertama yang dipimpin oleh Pierre I’ermite sebagai
gerombolan rakyat jelata yang tidak memiliki pengalaman perang, tidak disiplin,
dan tanpa persiapan. Pasukan salib ini dapat dikalahkan oleh pasukan Dinasti
Saljuk.
Pasukan Salib berikutnya dipimpin
oleh Godfrey of Bouillon. Gerakan ini lebih merupakan militer yang
terorganisasi rapi. Mereka berhasil menduduki kota suci Palestina (Yerusalem)
pada 7 Juli 1099.[13]
Kemenangan pasukan salib pada
periode ini telah mengubah peta dunia Islam dan berdirinya kerajaan-kerajaan
Latin-Kristen di timur, seperti Kerajaan Baitulmakdis (1099) di bawah pemerintahan
Raja Godfrey, Edessa (1099) di bawah Raja Baldwin, dan Tripoli (1099) di bawah
kekuasaan Raja Reymond.
2.
Periode
Kedua
Periode kedua atau disebut periode
reaksi umat Islam (1144-1192). Kemenangan kaum muslimin ini, terlihat jelas
setelah munculnya Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi (Saladin) di Mesir yang berhasil
membebaskan Baitulmakdis pada 2 Oktober 1187.[14]
Dalam perang salib ini akhirnya
pihak Richard dan pihak Saladin sepakat untuk melakukan gencatan senjata dan
membuat pejanjian. Perjanjian perdamaian ditetapkan di atas kertas pada 2
Nopember 1192, dengan ketentuan bahwa daerah pantai menjadi milik bangsa latin
sedangkan daerah pedalaman menjadi milik umat Islam, dan peziarah yang datang
ke kota Suci tidak boleh diganggu. Tahun berikutnya 19 Pebruari 1193 Shalah
sakit demam di Damaskus dan pada tanggal 2 Maret 1193 Shalah meninggal dalam
usia 55 tahun. Pusaranya yang berdekatan dengan masjid Umayyah, hingga kini
masih menjadi daya tarik bagi ibukota Suriah.
3.
Periode
Ketiga
Periode ketiga (1193-1291) lebih
dikenal dengan periode perang saudara kecil-kecilan atau periode kehancuran
didalam pasukan salib.
Dalam periode ini, muncul pahlawan
wanita dari kalangan kaum muslimin yang terkenal gagah berani, yaitu Syajar
Ad-Durr. Ia mampu menunjukkan kebesaran Islam dengan membebaskan dan
mengizinkan Raja Louis IX kembali ke negerinya, Perancis.
Perang Salib sesungguhnya juga masih
terjadi di masa sekarang, hanya saja tidak lagi perang menggunakan senjata,
akan tetapi perang intelektualitas.
E. Dampak
Perang Salib Terhadap Dunia Islam
Secara garis besar dapat disimpulkan
bahwa Perang Salib dimenangakan oleh umat Islam, akan tetapi dampak negatif yang
ditimbulkan oleh perang salib sangat banyak, termasuk dalam segi perekonomian,
karena Perang Salib terjadi di daerah kekuasaan Islam, meskipun umat Kristen
juga tidak kalah merugi.
Meskipun pihak Kristen Eropa
menderita kekalahan dalam Perang Salib, namun mereka telah mendapatkan hikmah
yang tidak ternilai harganya karena mereka dapat berkenalan dengan kebudayaan
dan peradaban Islam yang sudah sedemikian majunya. Bahkan kebudayaan dan
peradaban yang mereka peroleh dari Timur-Islam menyebabkan lahirnya renaisans di
Barat.
Selain Ekonomi, beberapa dampak
negatif dan kerugian dunia Islam akibat Perang Salib adalah sebagai berikut:
1.
Politik
Kekuatan politik umat Islam menjadi
lemah. Dalam kondisi demikian mereka bukan menjadi bersatu, tetapi malah
terpecah belah. Banyak dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan
pusat Abbasiyah di Baghdad
2.
Militer
Dalam bidang militer, dunia Barat
menemukan persenjataan dan teknik berperang yang belum pernah mereka temui
sebelumnya di negerinya, seperti penggunaan bahan-bahan peledak untuk
melontarkan peluru, pertarungan senjata dengan menunggang kuda, teknik melatih
burung merpati untuk kepentingan informasi militer, dan penggunaan alat-alat
rebana dan gendang untuk memberi semangat kepada pasukan militer di medan
perang.
3.
Perindustrian
Dalam bidang perindustrian, mereka
menemukan kain tenun dan peralatannya di dunia Islam, kemudian mereka bawa ke
negerinya, seperti kain muslin, satin, dan damas. Mereka juga menemukan
berbagai jenis parfum, kemenyan, dan getah Arab yang dapat mengharumkan
ruangan.
4.
Pertanian
Sistem pertanian yang sama sekali
baru di dunia Barat mereka temukan di Timur-Islam, seperti model irigasi yang
praktis dan jenis tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang beraneka macam, termasuk
penemuan gula.
5.
Perniagaan
(rangkuman)Orang barat memakai sistem
perdagangan Islam yang menggunakan uang sebagai alat tukar dalam jual beli.
Karena sebelumnya mereka masih menggunakan sistem barter.
6.
Ilmu
pengetahuan dan kesehatan
Ilmu astronomi yang sudah
dikembangkan oleh umat Islam sejak abad ke-9 telah pula memepengaruhi lahirnya
berbagai observatorium di Barat. Selain itu bangsa barat juga meniru adanya
rumah sakit, sebagaimana sudah berkembang lama di dunia Islam.[15]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
beberapa uraian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Saljuk
merebut Baitul Maqdis dari tangan dinasti Fatimiyah tahun 1078 M. Kekuasaan
Saljuk di Asia Kecil dan yerusalem dianggap sebagai halangan bagi pihak Kristen
barat untuk melaksanakan haji ke Bait al-Maqdis. padahal yang terjadi adalah
bahwa pihak Kristen bebas saja melaksanakan haji secara berbondong-bondong.
pihak Kristen menyebarkan desas-desus perlakuan kejam Turki Saljuk terhadap
jemaah haji Kristen. Desas-desus ini membakar amarah umat Kristen-Eropa. Kemudian
Paus Urbanus II (Pope Urban II) kemudian menyerukan agar raja-raja di seluruh
Eropa mengirimkan Tentara Salib (Crusader) untuk merebut Yerusalem dari tangan
penguasa muslim.
2. Periodisasi
Perang Salib bisa diklasifikasikan kedalam beberapa pendapat. Diantaranya
adalah 9, 8,7, atau 3 periode.
3. Dampak
Perang Salib sangat merugikan umat Islam dalam beberapa aspek penting. Meskipun
beberapa peperangan dimenangkan oleh pasukan Islam.
B.
Saran
Dengan mempelajari sejarah
kebudayaan Islam diharapkan dapat mengambil pelajaran dari berbagai
keberhasilan dan kegagalan masa lalu, memupuk semangat dan motivasi untuk
meningkatkan prestasi yang telah diraih umat terdahulu.
Dalam mempelajari sejarah peradaban
Islam diharapkan kita juga bersumber pada sumber terpercaya, karena sebaik-baik
kisah sejarah yang dapat diambil pelajaran dan hikmah berharga darinya adalah
kisah-kisah yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’ân dan hadits-hadits yang
shahîh dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena kisah-kisah
tersebut disamping sudah pasti benar.
DAFTAR PUSTAKA
A.
Latif Osman, Ringkasan Sejarah Islam, Jakarta: Widjaya, 1992.
A.
Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 1, 2, dan 3, Terj. Mukhtar Yahya dan
Sanusi Latief, Jakarta: Al-Husna Zikra, 2000.
Ahmad
Amin, Islam dan Masa ke Masa, Terj. Abu Laila dan Moh. Tohir, Bandung: Rosdakarya,
1993.
Ajid
Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia islam, Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2009.
Badni
Yatim, Historiografi Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 2000.
Harun
Nasution, Islam Ditinjau dan Berbagai Aspek, Jil. I, Yogyakarta: UI Press,
1985.
Jaih
Mubarak, Sejarah Perada ban Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005.
K.
Au, Studi Sejarah Islam, Terj. Adang Affandi, Yogyakarta: Binacipta, 1995.
Muhammad
Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Terj. All Audah, Jakarta: pustaka jaya,
1980.
Muhammad
Quthb, Perlulcah Menulis Ulang Sejarah islam?, Jakarta: Gema Insani Prcss,1995.
Philiph
K. Hitti, History.of the Arabs, Terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet
Riyadi, Jakarta: Serambi, 2008.
Syaikh
Shaflyyur Rahman al-Mubaralc, Sirah Nabawiyah, Terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar, 2009.
W.
Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia; Pengaruh Islam atas Eropa Abad
Pertengahan,Terj. Hendro Prasetyo, Jakarta: Gramedia Pustakan Utama, 2004.
[2] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam
1, 2, dan 3, Terj. Mukhtar Yahya dan Sanusi Latief, Jakarta: Al-Husna Zikra,
2000.
[4] Ajid Thohir, Perkembangan
Peradaban di Kawasan Dunia islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2009.
[15] Philiph
K. Hitti, History.of the Arabs, Terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet
Riyadi, Jakarta: Serambi, 2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar