MAKALAH
SEJARAH PERADABAN
ISLA
“PERADABAN DUNIA PRA
ISLAM”
Dosen Pengampu :
AHMAD MUHLISIN, M.
Di Susun Oleh :
Abi wisnu ubaidilah
(Perbankan syariah)
INSTITUT AGAMA ISLAM
MA’ARIF NU (IAIM-NU)
METRO LAMPUNG
TA.2016/2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan
Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya sehingga
dapat menyelesaikan makalah tentang “Peradaban
Dunia Pra Islam” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Penulis sangat berharap makalah ini
dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita , Penulis
juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah Penulis buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun
yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi Penulis
sendiri maupun orang yang membacanya.
Metro, Dsesember
2016
Penulis
DAFTAR
PUSTAKA
HALAMA JUDUL................................................................................................. i
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A.
Latar Belakang............................................................................................. 1
B.
Rumusan Masalah........................................................................................ 2
C.
Tujuan Penulisan.......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 3
A.
Arbia pra islam............................................................................................. 3
B.
Tradisi menulis dan
pendidikann bangsa arab............................................. 4
C.
Pusat intelektual di luar
arabia pra islams.................................................... 6
BAB III PENUTUP............................................................................................... 8
A.
Kesimpulan.................................................................................................. 8
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................... 9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah peradaban islam mempunyai dua konsep. Pertama,
sejarah memberikan pemahaman akan arti objektif tentang masa lampau. Peristiwa
masa lampau yang sampai kepada kita saat ini adalah peristiwa yang benar-benar
terjadi, ia bukan legenda atau cerita yang di karang (fiktif). Dalam hal ini
Al-Quran menegaskan kebenarannya dan menutupkan kisahnya walaupun tidak secara
rinci dalam penuturan kisahnya, di samping itu ada banyak bukti-bukti
arkeologis yang bisa menuatkan secara empiris bahwa peristiwa tersebut
benar-benar terjadi. Kedua, sejarah menunjukkan maknanya yang subjektif, karena
masa lampau tersebut telah menjadi semua kisah atau cerita yang kebenarannya
masih di pertanyakan.
Namun hal yang sangat penting dari dua konsep di atas
adalah bahwa ia memberikan gambaran kepada kita akan arti sejarah yang
sesungguhnya dalam kehidupan, terutama dalam membentuk pemahaman manusia
tentang masa lampau sehingga bisa dijadikan rujukan untuk gerak sejarah
berikutnya, karenanya dalam mempelajari sejarah kita perlu memperhatikan
beberapa karakteristik berdasarkan disiplinnya yang dapat di lihat pada tiga
orientasi yaitu : pertama, sejarah merupakan pengetahuan mengenai
kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa, dan keadaan manusia pada masa lampau
dalam kaitannya dengan keadaaan masa kini. Kedua, sejarah nerupakan pengetahuan
tentang hukum-hukum yang tampak menguasai kehidupan masa lampau, yang diperoleh
melalui penyelidikan dan analisis/peristiwa-peristiwa masa lampau.
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana keadaan Arabiya Pra-Islam ?
2.
Bagaimana tradisi menulis serta situasi
pendidikan Bangsa Arab Pra-Islam?
3.
Apa saja pusat kegiatan intelektual di luar
Arabiya Pra-Islam ?
C. Tujuan Masalah
1.
Untuk mengetahui keadaan Bangsa Arab Pra-Islam
2.
Untuk mengetahui tradisi dan situasi pendidikan
Bangsa Arab Pra-Islam
3.
Untuk mengetahui berbagai macam pusat kegiatan
intelektual di luar Arabiya Pra-Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Arabiya
Pra Islam
Secara geografis, Jazirah Arab bentuknya memanjang, ke
sebelah utara berbatasan dengan Palestina dan padang Syam, ke sebelah timur
Hira, Dijla (Tigris), Furat (Euphrates) dan Teluk Persia, ke sebelah selatan
Samudera Indonesia dan Teluk Aden, sedang ke sebelah barat Laut Merah. Jadi,
dari sebelah barat dan selatan daerah ini dilingkungi lautan, dari utara padang
sahara serta dari timur padang sahara dan Teluk Persia, letak geografis ini
telah melindunginya dari serangan dan penyerbuan penjajahan serta penyebaran
agama.
Jazirah Arab terletak di antara dua kebudayaan besar dunia, yaitu Romawi di Barat dan Persia di Timur. Persia adalah ladang subur berbagai khayalan (khurafat) keagamaan dan filosof yang saling bertentangan, sedangkan Romawi telah dikuasi sepenuhnya oleh semangat kolonialisme. Negeri ini terlibat pertentangan agama , antara Romawi di satu pihak dan Nasrani di pihak lain. Negeri ini mengandalkan kekuatan militer dan ambisi kolonialnya dalam melakukan petualangan (naif) demi mengembangkan agama kristen, dan mempermainkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya yang serakah.
Sementara itu, di jazirah Arabia kehidupan dalam keadaan tenang, jauh dari hal-hal di atas, mereka tidak memiliki kemewahan dan peradaban seperti Persia yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotan-kemerosotan, filsafat keserbabolehan dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama, mereka juga tidak memiliki kekuatan militer Romawi yang mendorong mereka melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga, mereka tidak memiliki filosofi dan dialetika Yunani yang menjerat mereka menjadi bangsa mithos dan khurafat.
Jazirah Arab terletak di antara dua kebudayaan besar dunia, yaitu Romawi di Barat dan Persia di Timur. Persia adalah ladang subur berbagai khayalan (khurafat) keagamaan dan filosof yang saling bertentangan, sedangkan Romawi telah dikuasi sepenuhnya oleh semangat kolonialisme. Negeri ini terlibat pertentangan agama , antara Romawi di satu pihak dan Nasrani di pihak lain. Negeri ini mengandalkan kekuatan militer dan ambisi kolonialnya dalam melakukan petualangan (naif) demi mengembangkan agama kristen, dan mempermainkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya yang serakah.
Sementara itu, di jazirah Arabia kehidupan dalam keadaan tenang, jauh dari hal-hal di atas, mereka tidak memiliki kemewahan dan peradaban seperti Persia yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotan-kemerosotan, filsafat keserbabolehan dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama, mereka juga tidak memiliki kekuatan militer Romawi yang mendorong mereka melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga, mereka tidak memiliki filosofi dan dialetika Yunani yang menjerat mereka menjadi bangsa mithos dan khurafat.
Karakteristik mereka seperti bahan baku yang belum
diolah dengan bahan lain, masih menampakkan fitrah kemanusiaan dan
kecenderungan yang sehat dan kuat, serta cenderung kepada kemanusiaan yang
mulia, seperti setia, penolong, dermawan, hanya saja mereka tidak memiliki
ma’rifat (pengetahuan) yang akan mengungkapkan jalan ke arah itu, karena mereka
hidup di dalam kegelapan, kebodohan, dan alam fitrahnya yang pertama. Akibatnya mereka sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan
tersebut.
Kemudian mereka membunuh anak
dengan dalih kemuliaan dan kesucian, memusnahkan harta kekayaan dengan alasan
kedermawanan dan membangkitkan peperangan di antara mereka dengan alasan harga
diri dan kepahlawanan.
Pada zaman dahulu, Jazirah Arab terbagi kedalam enam
bagian yaitu :
- Hijaz, terletak di sebelah
tenggara dari Thursina di tepi laut merah. Di daerah Hijaz itulah letaknya kota
yang terkanal dengan nama Mekkah atau Bakkah, Yastrib atau Madinnah, dan Thoif.
- Yaman, terletak disebalah
selatan Hijaz. Dinamakan Yaman karena daerah itu letaknya disebelah kanan
Kakbah bila kita mengahdap ke timur. Disebelah kiri daerah itu terletak Negeri
Asier. Didalam daerah itu ada beberapa kota yang besar-besar seperti kota Saba’
atau Makrib, Saria, Hudaidah, dan ‘And.
- Hadhramaur, terletak
disebelah timur dari daerah Yaman dan di tepi samudera Indonesia.
- Muhram, telertak disebalah
timur daerah Hadhramaur.
- Oman, terletak disebalah
utara bersambung dengan teluk Persia dan disebalah tenggara dengan Samudera
Indonesia.
- Al-Hasa, terletak di pantai
Teluk Persia dan panjangnya sampai ke tepi sungai Euphrat.
- Najd, terletak di
tengah-tengah antara Hijaz, Al-Hasa, Sahara Negeri Syam, dan Negeri Yamamah.
Daerah ini merupakan dataran tinggi.
- Ahqaf, terletak didaerah
Arab sebelah selatan dan disebalah barat daya dari Oman. Daerah ini merupakan
dataran rendah.
1. Sejarah Peradaban Bangsa
Romawi
Menjelang datangnya Islam, kekuatan dunia berpusat pada
dua kekuatan
Imperium Byzantium sebagai
pewaris Kerajaan Romawi yang beragama
Kristen, kedua yaitu Imperium
Persia yang beragama majusi. Kedua bangsa itu adalah bangsa-bangsa besar yang
sudah menguasai beberapa belahan dunia sejak sebelum masehi. Kekaisaran Romawi
yang sudah berabad-abad menguasai daratan Eropa dan menjadi kekuatan penting dunia yang tidak
terkalahkan, saat terjadi perselisihan, dimana kekaisaran dibagi menjadi 4
propinsi. Pada tahun 395 Kaisar Heodosius membagi kemaharajaannya menjadi dua
untuk dua orang puteranya Arkadius dan Honorius dengan Roma sebagai Ibukota
Romawi Barat dan Konstantinopel sebagai Ibukota Romawi Timur. Hal ini yang
dikemudian hari menjadi penyebab runtuhnya Romawi Barat pada tahun 410 M oleh
bangsa Gothia. Sementara Romawi Timur dapat bertahan dan melanjutkan
kemaharajaan Romawi sampai berabad-abad berikutnya. Dengan demikian Romawi
Timur menjadi satu-satunya pewaris Kemaharajaan Romawi, dengan nama Imperium
Byzantium dan Konstantinopel sebagai Ibukota. Antara orang-orang Persia dan
Romawi selalu terjadi peperangan yang berkepanjangan, khususnya memperebutkan
pesisir Laut Tengah sekitar Mesir dan Siria, karena tempat tersebut sangat
strategis untuk dijadikan Armada Lautan bagi masing-masing kerajaan. Lantaran
orang Persia beragama Majusi yang menyembah api, sedangkan Romawi beragama
Kristen dan mengakui adanya Tuhan, maka sedikit banyak peperangan diantara
keduanya juga peperangan antara Majusi dan Kristen, hal ini yang kelak juga
mempengaruhi orang Islam pada awal penyebarannya, yaitu ketika tentara Persia
dapat mengalahkan tentara Romawi dan merebut Mesir dan Siria, orang-orang Islam
bersedih sedangkan orang-orang Kafir Makkah bergembira. Namun Allah memberi
ketenganan kepada orang-orang Islam akan datangnya kemenangan bagi orang-orang
Romawi. Hal ini terjadi, dan tidak lama kemudian tentara Romawi dapat
mengalahkan tentara Persia dan merebut kembali daerah-daerah yang
semula direbut, dalam hal ini
orang-orang mukmin bergembira dan orang-orang kafir Makkah bersedih.
2. Sejarah Peradaban Bangsa Persia
Sedangkan
Bangsa Persia adalah turun temurun dari kekuasaan kemaharajaan Iskandar
Zulkarnain, yang setelah kematiannya, Persia terbagi menjadi kerajaan-kerajaan
kecil, pada tahun 227 keluarga Sasania mempersatukan Persia dengan mendirikan
Daulat Sasania. Mereka beragama Zaradhusta. Mereka
menyembah Allah, mereka berkekinan bahwa hak mereka
memegang kekuasaan adalah karunia Allah, dan hanya keturunan mereka yang berhak
untuk memerintah. Namun pada masa berikutnya
dengan keyakinan bahwa cahaya adalah simbul Tuhan dan kegelapan adalah simbul setan,
maka bangsa Persia menyembah api. Diwilayah asia barat terdapat
peradaban yang tinggi yang dimiliki bangsa persia, mereka ahli dalam politik
dan militer. Kebudayaan mereka bercampuran antara kebudayaan asli dengan
mesopotamia (daerah yang pernah ditaklukannya).Bangsa Persia
membangun tambang tambang besar dan kuil kuil seperti kuil di babilonia dan
siria. Bangsa persia telah mengenal alfabet yang terdiri dari 39 huruf. Mereka
mengenal ilmu astronomi dari bangsa babilonia. Bangsa zoroaster menganut ajaran
zoroaster yang hidup sekitar 600 SM. Menurut ajaran zoroaster hidup adalah
peperangan antara kebaikan (dewa kebijaksanaan ahuramazda) dan kejahatan (dewa
perusak ahriman). Penganut zoroaster harus ramah, jujur, tulus, dan bersahabat
dengan sesamanya. Jika penganut zoroaster meninggal ia dapat melewati api yang
ada diantara dunia dan surga tanpa terluka. Untuk mereka ada sebuah jembatan
lebar yang menghubungkan surga dengan dunia. Raja raja persia terkenal adalah
penganut zoroaster. Bahkan raja darius dalam satu prasastinya mengatakan “atas
kehendak ahuramazda yang memilih aku dan menjadikan aku raja seluruh dunia”.
Raja persia lainnya ataxerxes 1 mengeluarkan kalender dengan nama nama dewa
zoroaster sebagai nama nama bulannya. Bangsa persia akhirnya ditaklukan oleh
islam pada abad 7 M oleh khalifah umar bin khattab r.a.
3. Sejarah
Peradaban Bangsa Arab
Sedangkan
Bangsa Arab yang mendiami Jazirah Arab terlepas dari dua kekuatan tersebut,
dikarenakan letak geografis Jazirah Arab yang dikelilingi oleh padang pasir dan
lautan luas, sementara negerinya gersang tidak dialiri oleh sungai dan tidak
juga mendapat siraman air hujan dengan teratur kecuali Yaman di sebelah
Selatan. Maka wajar kalau dimasa itu Jazirah Arab tidak dikenal kecuali Yaman,
namun demikian kedua kekuatan itu tidak tertarik untuk menguasainya lantaran
letaknya yang sangat jauh dan harus dijangkau dengan mengarungi lautan atau
pegunungan tandus dan padang pasir yang luas.
Bangsa Arab adalah salah satu dari bangsa Smith, yang mendiami daratan
yang dinisbahkan kepada bangsa
mereka, yaitu jazirah Arab. Mereka terdiri dari tiga bagian:
1- Bangsa Arab yang sudah
punah
2- Bangsa Arab campuran
3- Bangsa Arab pendatang
Bangsa Arab yang sudah punah
tersebut terdiri dari kaum: ‘Ad, Thamud, Tasm
, Jadis, ‘Imliq, Jurhum dan
Wabar. Adapun generasi berikutnya terdiri dari dua garis keluarga besar, yaitu
Qahtan dan ‘Adnan: Keluarga Qahtan ialah merupakan garis keturunan keluarga
yang datang dari sebelah Timur sungai Euphrat, lalu
bertempat tinggal di Hadramaut
dan Yaman, dibagian selatan semenajung Arabia. Mereka itu telah menguasai
tehnik pengairan yang baik, mereka mendirikan bendungan Ma’rib untuk
mengumpulkan air yang dapat mereka pergunakan pada saat mereka perlu. Oleh
karena itu di Yaman terdapat beberapa kerajaan yang terkenal dengan kota-kota
besarnya yang makmur serta mempunyai kemajuan yang cukup dengan zaman itu. Di
antara kerajaan-kerajaan itu ialah kerajaan Saba’, yang riwayatnya
tersebut dalam Taurat dan Al-Qur’an:
“Sesungguhnya karena kemakmuran negeri ini (Yaman) dinamailah dia ‘Negeri Arab
yang berbahagia”. Sedangkan keluarga
Adnan merupakan Garis keturunan yang mendiami Makkah dan negeri-negeri di
sekitarnya (Hijaz). Mereka adalah
keturunan nabi Isma’il a.s.
bin Ibrahim a.s. yang datang ke Makkah dan mendirikan Ka’bah. Dari keluarga
Adnan ini lahirlah beberapa suku (kabilah), diantaranya adalah Kinanah, yang
daripadanya lahir suku Quraisy.
Oleh karena sebagian besar tanah Arab berupa padang pasir
dan gurun yang tandus, maka kebanyakan penduduknya hidup berpindah-pindah, hal
ini menyebabkan timbulnya perselisihan antar satu suku dengan yang lainnya,
karena memperebutkan lembah dan air. Kerena itu mereka terbentuk dengan sifat
berani untuk membela diri. Sehingga tertanam dalam diri mereka sifat berani dan
suka berperang. Mereka hidup dalam udara yang merdeka, jauh dari jangkauan kaum
penjajah. Sedangkan di Yaman, tidak
satupun kerajaan yang berani mengarahkan tentaranya ke negeri Arab yang tandus
itu, kecuali ke Yaman yang kaya raya. Negeri ini pernah diperangi oleh bangsa
Ethiopia pada tahun 570 M. Dibawah
pimpinan panglima Aryath, kemudian Abrahah
menggantikan Aryath sebagai gubernur diYaman, ia mengerahkan tentaranya
menyerang Makkah dengan maksud akan meruntuhkan Ka’bah pada tahun 571 M.
Angkatan perang Abrahah yang besar yang dipelopori oleh pasukan Gajah itu
hancur lebur ditengah jalan karena dihadang oleh serangan burung Ababil.
Sebenarnya suku-suku mereka (Bangsa Arab) terpecah belah dan tidak bersatu,
tidak tunduk kepada suatu pemerintah pusat, yang mengakibatkan tidak adanya
kesatuan politik dan agama mereka. Tiap suku
mempunyai pimpinan sendiri
dengan gelar ‘Syaikul Qabilah’
(Kepala suku). Kepala dari suku yang besar, seakan-akan menjadi raja yang tidak
bermahkota. Perintahnya menjadi undang-undang, segala keperluannya harus
dituruti, dan suku-suku yang kecil harus tunduk kepada mereka. Sedangkan
kedudukan Suku Quraisy pada umumnya sangat menghormati Ka’bah. Mereka datang
untuk berziarah dan menunaikan haji tiap tahun. Bulan-bulan waktu ziarah Ka’bah
dianggap sebagai bulan yang mulia, di kala itu tidak boleh melakukan
peperangan. Di sekeliling Ka’bah itu mereka mengadakan pasar tahunan, yaitu
‘Ukaz dan Zul Majaz. Kaum Quraisy bermukim di sekitar Ka’bah untuk melindungi
dan mengabdi kepadarumah suci itu. Oleh karena itu mereka memperoleh kehormatan
dari suku-suku yang lain. Karakter Suku Quraisy adalah suku saudagar yang gemar
berniaga, mereka berhubungan dengan bangsa-bangsa yang telah maju, perhubungan
ini sangat besar pengaruhnya kepada kemajuan dan kecerdasan fikiran mereka.
Mereka juga dikenal dengan suku yang sangat memuliakan tamu. Dalam soal ini
mereka
mendapat pujian yang istimewa
pari para penyair.
Sebelum datangnya Islam, sebagian besar suku Arab
menyembah berhala, dengan bentuk yang berbeda-beda, jumlah berhala yang mereka
sembah mencapai 360 berhala, yang seluruhnya terletak di sekitar Ka’bah. Tiap
suku memiliki berhala sendiri, juga terdapat patung Nabi Ibrahim, Isa Al-Masih,
dan Hubal sebagai berhala suku Quraisy, berhala-berhala itu terbuat dari batu
akik dan batu hitam.
4. Sejarah Peradaban Mesir
Kebudayaan
mesir merupakan salah satu kebudayaan sungai, yaitu sebuah kebudayaan yang
banyak terpengaruh dari endapan lumpur sungai, yaitu sungai nil.sungai nil
merupakan sungai terpanjang di dunia. Terdapat pula peninggalan kebudayaan
mesir kuno, seperti memphis, thebes, gizah, luxor dan sebagainya. Di gizah
terdapat makam para raja raja yang berbentuk piramida dan patung singa
berkepala manusia yang disebut spinx. Bangsa mesir kuno telah mampu membagi
bulan dan mengenal tulisan yang disebut helioglip.
5. Sejarah Peradaban Yunani
Sebelum agama islam masuk ke eropa, dikalangan bangsa
barat sudah ada peradaban dan kepercayaan. Yang mereka anut pada sangan t itu
adalah mengakui banyak tuhan atau politheisme. Kepercayaan yang menonjol
di kalangan mereka saat itu bahwa tuhan bertempat di gunung olimpus. Dewa yang
tertinggi bertahta di gunung itu adalah dewa zeus. Dewa zeus menguasai
beberapa dewa lainnya, seperti dewa ares (dewa peraga), dewa artemis (dewa
perburuhan), dan lain sebagainya.
Bangsa yunani pada saat itu telah memiliki pengetahuan
tinggi, mereka mampu mendirikan negara kota seperti sparta, athena, thebe,
dengan korinthia. Pembentukan negara kota seperti ini tidak hanya terjadi di
yunani saja, namun juga di pulau pulau laut aegea dan mediteranian. Kemampuan
yang mereka miliki tersebar ke beberapa wilayah lain, bersamaan dengan
kepindahan merka ke tmpat yang baru (kolonisasi).mereka meninggalkan kota
menuju asia kecil thrasia, yaitu daerah sepanjang laut hitama, italia dan laut
sisilia.
B. Tradisi Menulis dan Pendidikan Bangsa Arab
Bangsa Arab Pra-Islam, menurutnya lembaga pendidikan
dasar, kuttab, kata jadian dari kataba (menulis) sudah dikenal pada zaman pra-Islam. Menurut Hasan
Asari jika kita mengambil pengertian kuttab
sebagaimana kemudian dipahami dalam Islam, maka kuttab adalah lembaga pendidikan dasar untuk mengajarkan tulis
baca, berhitung, dan dasar-dasar agama, maka penggunaan kata ini pada bangsa
Arab pra-Islam menunjukkan bahwa adanya satu sistem pendidikan yang telah
berfungsi di kalangan bangsa Arab pra-Islam. Indikasi ini menurut Hasan Asari
didukung oleh terdapatnya dalam catatan sejarah beberapa nama yang dikenal
sebagai guru (mu’allim) yang hidu
sebelum periode Islam seperti Bisyr b. ‘Abd al-Malik, Sufyan b. Umayyah b. ‘Abd
Syams, ‘Usman b. Zarrah, Abu Qays, dan sebagainya. Catatan-catatan sejarah
tentang kegiatan pendidikan di tengah komonitas Yahudi dan Kristen yang hidup
di Arab pra-Islam cendrung lebih lengkap, jika dibandingkan dengan bangsa Arab
pagan (penyembah berhala). Komonitas Yahudi dan Kristen terkenal dengan
perhatian yang tinggi terhadap pendidikan. Sebelum datangnya Islam Arabia telah
mengenal sekolah-sekolah Yahudi dan Kristen yang mengajarkan kitab suci (Taurat dan Injil), filsafat, jadal (debat)
dan topic-topik lain yang berkaitan dengan agama mereka, sehingga banyak
orang-orang Arab pra-Islam yang memamfaatkan kehadiran Yahudi dan Kristen untuk
belajar tentang sejarah, nab-nabi, maupun hal-hal lainnya.
Ringkas kata, menjelang
datangnya Islam, bangsa Arab pada dasarnya telah mengembangkan satu kegiatan
sastra, terutama dalam bentuk puisi. Meskipun sistem ekpresi dan transmisi yang
dominan adalah lisan, tulisan telah mulai dikenal secara terbatas. Paling tidak
untuk kalangan tertentu (Yahudi dan Kristen) pendidikan.
C. Pusat
Kegiatan Intelektual di Luar Arabia Pra-Islam
1. Athena Klasik : The School
of Hellas
Sejarah panjang peradaban Yunani mengantarkannya ke puncak peradaban
manusia di seluruh dunia. Kemajuan di berbagai bidang dengan mudah terlihat
sebagai simbolisasi dari kuatnya peradaban ini. Tidak ada pembicaraan tentang
ilmu pengetahuan modern yang bisa mengelak dari merujuk akarnya ke Yunani
sebagai sebuah kota yang berada di bawah kekuasaan Romawi Timur, Athena
mengalami kemakmuran dan kemajuan budaya serta menjadi salah satu pusat
kegiatan intelektual kerajaan Romawi. Sejumlah pusat pendidikan berdiri di kota
ini. Filsafat dan ilmu-ilmu lainnya berkembang dengan baik. Peradaban ini
melahirkan sederet nama-nama besar di berbagai bidang pengetahuan semisal
Thales, Anaximenes, Anaximender, Protogoras, Socrates, Aristoteles, Plato,
Plotinus dan Phytagoras. Di Athena, Plato yang wafat tahun 347 SM
mendirikan Akademi Filsafat yang belakangan dikenal sebagai museum Athena.
Merupakan sebuah lembaga besar dan terbuka, tempat para ilmuan dari berbagai
latar belakang bangsa dan agama bersama-sama mengembangkan pengetahuan
Pandangan keagamaan Justian I
yang demikian fanatik dan tidak bisa mentolerir keberadaan penganut sekte atau
agama lain menjadi latar belakang penutupan museum Athena. Disamping itu,
penutupan museum ini juga berkaitan dengan sikap Justinian I yang tidak terlalu
antusias terhadap dunia ilmu pengetahuan dan filsafat, di samping-alasan-alasan
ekonomi.
2.
Alexandria Hellenistik
Alexandria
(al-Iskandaryah) dibangun sekitar abad ke-3 SM, terletak di pantai laut Tengah
dan termasuk wilayah Mesir. Kota ini berada di bawah kekuasaan Romawi Timur
hingga datangnya Islam. Pada abad ke-1 M, Alexandria telah menjadi pusat ilmiah
dan fillsafat Yunani bersamaan dengan pertemuan Hellenisme dengan pengaruh
Oriental dan Mesir Kuno. Walaupun Athena memberikan jalan bagi Alexandria
sebagai pusat intelektual bagi lingkungan Yunani, namun demikian tradisinya
tetap meneruskan tradisi Hellas dengan menciptakan dua sistem filsafat baru
yang akan menempatkan mereka berdampingan dengan Plato, Aristoteles dalam
pengeruhnya bagi pemikiran Barat. Sebagai pusat ilmiah, kota Alexandria
mendapat dukungan yang baik dari para Kaisar di Konstantinopel, paling tidak hingga
abad ke-4 M. Keterbukaan dan kebebasan ilmiah yang dulunya berhasil memajukan
Athena kembali diterapkan di Aleksandria. Para ilmuan dari berbagai latar
belakang budaya dan agama dengan bebas berpartisipasi dalam kegiatan
pengembangan ilmiah di kota ini. Sama halnya dengan periode Athena, fanatisme
agama tampaknya berperan besar dalam proses kemunduran kegiatan intelektual di
Alexandria. Sejak awal abad ke-5 M., kegiatan intelektual di kota ini terus
mengalami kemunduran.
3.
Romawi Timur
Ketika
kerajaan Yunani mengalami kemunduran dan kemudian kaisar Augustus mendirikan
kerajaan Romawi Pada tahun 27 SM. Saat itu, Athena tetap berfungsi sebagai
pusat pengembangan intelektual. Sayangnya, filsafat dan sains tidak pernah
tumbuh subur di Roma seperti hal nya di Athena dan Alexandria. Namun demikian,
para filosof dan ilmuan pada masa Romawi mencakup orang-orang yang sangat
berpengaruh dalam perkembangan intelektual Eropa masa pertengahan.
Produktivitas ilmiah benar-benar mengalami kemunduran di bawah kekuasaan Romawi
ini. Chester G. Starr menyebut abad kedua kekuasaan Romawi ini sebagai abad
mandul – dalam arti tidak memproduksi karya ilmiah yang monumental. Adapun
penyebab kemandulan ini adalah :
- Absolutisme sistem imperial yang diterapkan benar-benar bertentangan dengan kebebasan sebagai syarat perkembangan ilmiah.
- Peralihan besar-besaran dalam struktur kelas sosial dimana kelas atas yang sebelumnya merupakan penyangga peradaban Yunani mengalami kehancuran.
- Bangkitnya individualisme menggerogoti sistem kemasyarakatan sehingga tidak memberi kemungkinan berkembangnya peradaban yang tinggi.
Di antara karya yang sempat ada pada masa ini
adalah karya Plotinus yang mencakup keseluruhan filsafat termasuk Kosmologi dan
Fisika. Karya-karya ini merupakan sintesis dari pemikiran Platonik,
Phytagorean, Aristotelian, dan Stoic, yang kemudian dikenal dengan nama
Neoplatonisme. Merupakan filsafat yng dominan dalam dunia pemikiran
Yunani-Roman; sisa-sisa purbakala sampai pada era pertengahan.
Pesatnya
pertukaran budaya terjadi setelah tahun 155 SM, ketika kedutaan Athena tiba di
Roma untuk menyampaikan suatu keputusan yang tidak disukai yang telah diambil
oleh penengah Yunani dalam percekcokan dengan ibu kota negara bagian Oropus. Seruan tersebut tidak berhasil dan sang duta besar kembali ke Athena, tanpa
menghasilkan apa-apa kecuali stimulasi ceramah filsafat di Roma. Transmisi
pengetahuan dari Athena menuju Roma salah satunya terjadi melalui Alexandria.
Ada keyakinan bahwa Plotinus (205 M.- 270 M.) –filosof Yunani— dilahirkan di
Mesir; ia belajar di Alexandria sebelum pindah ke Roma di usia 40 tahun.
4.
Kostantinopel
Sumbangan Konstantinopel terhadap perkembangan pengetahuan salah satunya
adalah dengan didirikannya Universitas oleh Konstantin di Konstantinopel.
Institusi ini diakui oleh Theodosius II pada tahun 425. merupakan universitas
baru yang menjadi pusat belajar terpenting di kerajaan tersebut. Disamping itu,
perlu pula dicatat beberapa peninggalan seperti karya-karya Proclus yang mencakup
komentar terhadap buku I dari Euclid yang berjudul ‘Element‘ yang
berisikan sejarah geometri Yunani yang sangat kaya serta sebuah risalah yang
berjudul ‘Outline of Astronomical Hypothesis’, yang merupakan ringkasan
dari teori Hipparchus dan Ptolemy.
5. Jundi
Shapur
Pusat intelektual lain yang
juga penting adalah Jundi Shapur, sebuah kota tua di bagian Tenggara lembah
Mesopotamia dan berada di bawah kekuasaan kerajaan Persia Sasaniyah. Kegiatan
ilmiah di kota ini mencapai puncak kejayaannya pada abad ke enam, namun kota
ini masih relatif vital sampai sekitar abad ke 4/10 M, setelah berada di bawah
kekuasaan Muslim.
Jundi Shapur menjadi pusat intelektual terbaik
di zamannya, khususnya di bidang kedokteran, matematika dan musik. Nama Jundi
Shapur menjadi terkenal selama periode Islam. Jundi Shapur secara cepat menjadi
pusat ilmu pengetahuan yang utama, khususnya bagi Pengobatan Hipokratik, yang
kemudian diperkuat lagi setelah tahun 489 M., ketika aliran Edessa ditutup atas
perintah penguasa Byzantine. Bersamaan dengan berkembangnya kegiatan ilmiah di
kawasan Sasaniyah Kerajaan Romawi Timur tampaknya lebih banyak dikuasai oleh
Kaisar-kaisar yang tidak mendukung kegiatan ilmiah yang mengakibatkan
ditutupnya sejumlah akademi di beberapa kota. Hal ini secara langsung
menguntungkan kota Persia, Jundi Shapur; banyak ilmuan yang kemudian
meninggalkan Athena, Alexandria dan kota-kota Romawi lainnya lalu memilih untuk
menetap di Jundi Shapur.
6. Edessa, Harran dan Nisibis: Jalan menuju
Baghdad
Di
antara kota tujuan para ilmuan yang meninggalkan Athena dan Alexandria adalah
Edessa dan Harran, dua kota Mesopotamia Utara dimana Kebudayaan Syria Kuno
sudah berkembang sejak awal. Meskipun pada umumnya penduduk daerah ini adalah
penganut Kristen Nestoris, tetapi sebagai sebuah kota ilmiah, para ilmuan pagan
pun mendapat tempat terhormat di sini. Bahkan kegiatan kota Harran cenderung
lebih didominasi oleh para ilmuan pagan, sedangkan Edessa menjadi pusat
kegiatan intelektual yang didominasi oleh para ilmuan Kristen (Nestoris).
Karya-karya yang diterjemahkan saat ini mencakup bidang-bidang matematika,
astronomi, kedokteran dan filsafat. Pada paruh pertama abad ke-6 M kota Nisibis
memiliki sebuah akademi pendidikan yang mungkin bisa disebut terbaik di dunia
kala itu. Di sini berlangsung kegiatan penerjemahan karya-karya penting Yunani
dan Sanskerta ke dalam bahasa Persia lama (Pahlavi) dan bahasa Syria, oleh para
ilmuan Syria, Yahudi, Persia dan lain-lain. Karya-karya yang diterjemahkan
antara lain bidang-bidang matematika, kedokteran, astronomi, dan filsafat.
Kemunduran Alexandria yang menyebabkan terjadinya eksodus ilmuan berperan besar
dalam penyebaran sains ke daerah-daerah ini. Setelah dimusuhi di belahan Barat,
kelompok ini melarikan diri ke wilayah Syria dan mendirikan sekolah di Edessa.
Ketika pada tahun 489 M, kaisar Romawi Timur memerintahkan agar akademi ilmiah
Edessa ditutup, para ilmuan kembali harus pindah, kali ini ke Nisibis, masih di
Mesopotamia Utara.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jazirah
Arab terletak di antara dua kebudayaan besar dunia, yaitu Romawi di Barat dan
Persia di Timur. Jazirah Arab terlepas dari dua kekuatan tersebut, dikarenakan
letak geografis Jazirah Arab yang dikelilingi oleh padang pasir dan lautan
luas, sementara negerinya gersang tidak dialiri oleh sungai dan tidak juga
mendapat siraman air hujan dengan teratur kecuali Yaman di sebelah Selatan.
Masa sebelum kedatangan islam dikenal dengan zaman zahiliyah yakni periode
suatu kemunduran dalam kehidupan beragama. Namun demikian bukan berarti
masyarakat Arab tidak memiliki peradaban.
Tradisi
menulis dan pendidikan bangsa Aarab pra-islam pada dasarnya telah mengembangkan
suatu kegiatan sastra terutama dalam bentuk puisi. Sedangkan pusat kegiatan
intelektual di luar arabia pra-islam diantaranya Atena, Alexansria, Romawi
Timur, Kostannopel, Jundi Shapur, Edessa, Harran, dan Nisbis.
Daftar Pustaka
1. Taswiyah. 2011. Sejarah Peradaban Islam.
Jakarta : Diadit Media Press.
2. Asari Hasan. 2007. Menyikap zaman Keemasan Islam. Bandung : Cita
Pustaka Media.
3. Daftary
Farhad. 2002. Tradisi-Tradisi Intelektual Islam. Jakarta : Erlangga.
4. Mufrodi Ali. 1997. Islam di Kawasan
Kebudayaan Arab. Jakarta : Logos
Tidak ada komentar:
Posting Komentar