BAB II
PEMBAHASAN
A.
BIOGRAFI
Anaximenes adalah seorang filsuf dari Kota
Miletus, kota yang sama dengan Thales dan Anaximandros. Merupakan filsuf ketiga
dari Kota Miletus dan dia juga hidup disezaman demean Thales dan Anaximandros. Anaximenes
disebut juga sebagai penganut madzhap miletus. Namun tentang kapan kelahiranhya
msih belum jelas.Ada yang menyatakan dia lahir pada 588 SM. Anaximenes lebih
muda dari Anaximandros. Bahkan dia juga disebut sebagai teman,murid,peganti
dari Anaximandros. Anaximenes mulai
terkenal sekitar tahun 545 SM, sedangkan tahun kematianya di perkirakan sekitar
tahun 528-526 SM. Dia menulis satu buku, dan dari buku tersebut hanya satu
fragmen yang masih tersimpan sampai kini. Merupakan filsuf pertama yang
menekankan pada hukum fisika yang mendasari yang mengatur alam semesta.[1]
Anaximrnes juga merupakan orang
pertama yang mengarang suatu traktat dalam kesusastraan yunani.dan berjasa
dalam bidang Astronomi,geografi sehingga ia dikenal sebagai orang pertama yang
membuat peta bumi serta ia juga berhasil memimpin sekelompok orang yang membuat
kota baru yang ia beri nama Apollonia di Yunani
Para pemikir filsafat Yunani
yang pertama berasal dari miletos, sebuah kota perantauan yunani yang terletak
di pesisir Asia kecil.mereka kagum terhadap alam yang penuh nuansa dan ritue
dan berusaha mencari jawaban atas apa yang ada dibelakang semua misteri itu.[2]
Pada tahun 494 SMkota miletos direbut
dan dimusnahkan oleh bangsa Pars. Dalam sejarah fisafat selanjutnya kita hampir
tidak mendangar lagi nama kota itu.tetapi pemikiran filsafat yang lahir dalam
kota yunani ini tidak musnah,melainkan akan berkembang terus di daerah-daerah
yunani lainya.
B.
PEMIKIRAN
1. Udara sebagai prinsip dasar
segala sesuatu
Pemikiran dari Anaximenes lebih cendrung
berbicara tentang filsafat alam yakni apa yang menjadi prinsip dasar (arche)
segala sesuatu. Dia merasa ada suatu kejanggalan dan kesulitan dalam menerima
filsafat dari pendahulunya, Anaximandros dan Thales. Salah satu kesulitan untuk
menerima filsafat Anaximandros tentang to
aperion (berasal dari bahasa yunani
a =tidak dan eras = batas) dia
mengatakan suatu prinsip abstrak yang menjadi prinsip dasar segala sesuatu. Dia
bersifat ilahi,abadi,tidak terubahkan dan meliputi segala sesuatu. Dari prinsip
inilah berasal segala sesuatu yang ada didalam jagad raya sebagai unsur
berlawanan(yang panas dan dingin, yang kering dan yang basah, malam dan terang)
kemudian beberapa prinsip ini juga semua pada akhirnya akan kembali.[3]
Pandangan fisafatnya tentang
kejadian alam ini sama dengan pandangan gurunya.hanya saja ia tak dapat
menerima pandanganAnaximandros tentang to apeiron yang metafisik adalah
sebagaimana menjelaskan hubungan saling mempengaruhi antara metafisik demean
yang fisik.Karena itulah Anaximenes tidak lagi melihat sesuatu yang metafisik
sebagai prinsip dasar segala sesuatu,melainkan kepada zat yang bersifat fisik
yakni udara.Udara itulah yang satu dan tidak terhingga.udaralah yang membalut
dunia ini menjadi sebab segala yang hidup.
Tidak seperti air yang tidak terdapat di
api (pemikiran Thales), udara merupakan zat yang terdapat di dalam sesuatu hal,
baik air,api,manusia maupun segala sesuatu.Karena itu, Anaximenes berpendapat
bahwa udara adalah prinsip dasar segala sesuatu.Udara adalah zat yang
menyebabkan seluruh benda muncul, telah muncul atau akan muncul sebagai bentuk
lain.Perubahan-perubahan tersebut berproses dengan prinsip “pemadatan dan
pengenceran”.Bila udara bertambah kepadatannya, maka muncullah berturut-turut
angin,air,tanah dan kemudian batu.Sebaliknya,bila udara mengalami pengenceran,
maka yang timbul adalah api.proses pemadatan dan pengenceran tersebut meliputi
seluruh kejadian alam,sebagaimana air dapat berubah menjadi es dan uap,dan
bagaimana seluruh substansi lain dibentuk dari kombinasi perubahan udara.[4]
2. Tentang Alam Semesta.
Pembentukan alam semesta menurut Anaximenes
adalah dari proses pemadatan dan pengenceran udara yang membentuk air, tanah, batu, dan sebagaimanaya. Bumi, menurut Anaximenes,
berbentuk datar, luas, dan tipis, hampir seperti meja.Bumi dikatakan melayang
di udara sebagaimana daun melayang di udara.Benda-banda langit seperti bulan
,bintang,dan matahari juga melayang di udara dan mengelilingi bumi.Benda-benda
langit tersebut merupakan api yang berada di langit,yang muncul karena
pernapasan basah dari bumi,Bintang-bintang tidak memproduksi panas karena
jaraknya yang jauh dari bumi.Ketika bintang,bulan,dan matahari tidak terlihat
pada malam,itu disebabakan karena tersembunyi di belakang bagian-bagian tinggi
dari bumi ketika mereka mengitari bumi.kemudian awan-awan,hujan,salju,dan
fenomena alam lainnya terjadi karena pemadatan udara.
Sebagai ilmu alam ,Anaximenes
berpendapat semuanya terjadi di udara. Kalau udara diam saja ,sudah tentu tidak
terjadi yang lahir itu dengan berbagai macam dan ragam. Udara bisa jarang dan
padat. Kalau udara menjadi jarang ,terjadilah api. Kalau udara berkumpul
menjadi rapat terjadilah angin dan awan.Jika bertambah menjadi lebih padat
terjadilah hujan dari awan itu. Dari air terjadilah tanah ,dan tanah yang
sangat padat menjadi batu.[5]
3. Tentang jiwa
Jiwa manusia dipandang sebagai kumpulan
udara saja.Buktinya,manusia perlu bernapas untuk.Mempertahankan hidupnya. Jiwa adalah yang
mengontrol tubuh dan menjaga segala sesuatu pada tubuh manusia bergerak sesuai
dengan yang seharusnya. Karena itu, untuk menjaga kelangsungan jiwa dan
tubuh. Disini, Anaximenes mengemukakan persamaan antara tubuh
manusiawi dengan jagat raga berdasarkan
kesatuan prinsip dasar yang sama,yakni udara.tema tubuh sebagai
mikrokosmos (jagat raya kecil) yang mencerminkan jagat raya sebagai makrokosmos
(jagat raya besar) adalah tema yang akan sering dibicarakan di dalamFILSAFAT YUNANI. Akan tetapi, Anaximenes
belum menggunakan istilah-istilah tersebut didalam pemikiran filsafatnya.
Disini untuk pertama kali
pengertian jiwa masuk ke dalam pandangan filosofi.Hanya Anaximenes tidak
melanjutkan pemikirannya kepada soal penghidupan jiwa.Soal ini terletak di luar
garis filosofi alam yang menari sebab penghabisan dari alam ini.Soal jiwa yang
baru kemudian menjadi masalah penting bagi filosofi.Barulah Aristoteles mengupasnya.
Dengan itu dihidupkannya cabang ilmu baru yang
diberi nama psikologi.[6]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Anaximenes adalah seorang filsuf dari Kota
Miletus, kota yang sama dengan Thales dan Anaximandros. Merupakan filsuf ketiga
dari Kota Miletus dan dia juga hidup disezaman demean Thales dan Anaximandros. Anaximenes
disebut juga sebagai penganut madzhap miletus. Namun tentang kapan kelahiranhya
msih belum jelas.Ada yang menyatakan dia lahir pada 588 SM. Anaximenes lebih
muda dari Anaximandros. Bahkan dia juga disebut sebagai teman,murid,peganti
dari Anaximandros. Anaximenes mulai
terkenal sekitar tahun 545 SM, sedangkan tahun kematiannya diperkirakan sekitar
tahun 528-526 SM. Dia menulis satu buku, dan dari buku tersebut hanya satu
fragmen yang masih tersimpan sampai kini. Merupakan filsuf pertama yang
menekankan pada hukum fisika yang mendasar yang mengatur alam semesta.
a. Udara sebagai prinsip
dasar segala sesuatu
Pemikiran dari Anaximenes lebih cendrung
berbicara tentang filsafat alam yakni apa yang menjadi prinsip dasar (arche)
segala sesuatu. Dia merasa ada suatu kejanggalan dan kesulitan dalam menerima
filsafat dari pendahulunya, Anaximandros dan Thales. Salah satu kesulitan untuk
menerima filsafat Anaximandros tentang to
aperion (berasal dari bahasa yunani
a =tidak dan eras = batas) dia
mengatakan suatu prinsip abstrak yang menjadi prinsip dasar segala sesuatu.
b. Tentang Alam Semesta.
Pembentukan
alam semesta menurut Anaximenes adalah dari proses pemadatan dan pengenceran
udara yang membentuk air,tanah,batu,dan sebagaimanaya.Bumi,menurut Anaximenes,berbentuk
datar,luas,dan tipis,hampir seperti meja.Bumi dikatakan melayang di udara
sebagaimana daun melayang di udara.Benda-banda langit seperti bulan
,bintang,dan matahari juga melayang di udara dan mengelilingi bumi.Benda-benda
langit tersebut merupakan api yang berada di langit,yang muncul karena
pernapasan basah dari bumi,Bintang-bintang tidak memproduksi panas karena
jaraknya yang jauh dari bumi.Ketika bintang,bulan,dan matahari tidak terlihat
pada malam,itu disebabakan karena tersembunyi di belakang bagian-bagian tinggi
dari bumi ketika mereka mengitari bumi.kemudian awan-awan,hujan,salju,dan
fenomena alam lainnya terjadi karena pemadatan udara.
c. Tentang jiwa
Jiwa
manusia dipandang sebagai kumpulan udara saja.Buktinya,manusia perlu bernapas
untuk. Mempertahankan hidupnya.jiwa adalah yang mengontrol tubuh dan menjaga
segala sesuatu pada tubuh manusia bergerak sesuai dengan yang seharusnya.karena
itu,untuk menjaga kelangsungan jiwa dan tubuh.Disini,Anaximenes mengemukakan
persamaan antara tubuh manusiawi dengan jagat raga berdasarkan kesatuan prinsip dasar yang sama,yakni
udara.tema tubuh sebagai mikrokosmos(jagat raya kecil) yang mencerminkan jagat
raya sebagai makrokosmos adalah tema yang akan sering dibicarakan di dalam FILSAFAT YUNANI.Akan tetapi,Anaximes
belum menggunakan istilah-istilah tersebut didalam pemikiran filsafatnya.
B.
Saran
Dalam pembahasan mengenai tokoh Anaximenes
pemakalah mengharapkan masukan-masukan melengkapi pembahasan ini.Makalah ini
diharapkan dapat memperkaya wawasan kita dan meningkatkan pemahaman tehadap
tokoh filsafat ini.
K. Bertens,Sejarah Filsafat Yunani,Yogyakarta,Kanisius.1990.
Simon
Petrus L. Tjahjadi.Petualangan Intelektual.
Yogyakarta: Kanisius,2004
Brouwer,et,al,sejarah filsafat modern dan sezamannya.Alumni,Bandung,1986.
W.K.C.Guthrie.A History of Greek Philosophy.London:
Cambridge Unervisity Press.1985.
Richard McKiranan.”presocratic Philosophy.In The Cambridge Companion to Eariy Philosophy.Christopher
Shields (ED).Malden:Blackwell Publishing 2003.
[1].K.bertens 1990.sejarah
filsafat yunani.yogyakarta:Kanisisus.hal.31-33
[2] Brouwer,et.al,sejarah
filsafat modren dan sezamannya.Alumni,Bandung,1986,hlm.2.
[3]P.Diamandopoulos.1972.”anaximenes”.in The
Encyclopedia of Philosopy Volume 1.Paul Edwards(ED).New York:Macmillan Publishing
&The Free Press.
[4]W.K.C.Guthrie.1985.A History of Greek Philosophy Volume 1.
[5] K.bertens 1990.sejarah
filsafat yunani.yogyakarta:Kanisisus.hal.31-33
[6]Richard McKiranan. 2003.”presocratic Philosophy.In
The Cambridge Companion to Eariy
Philosophy.Chirstopher Shields (ED).Malden:Blackwell Publishing.
beri masukan
BalasHapus