BAB II PEMBAHASAN
A.
Biografi
Thales([1])
Thales lahir pada 624 SM, di kota
kecil Miletus yang terletak di pantai barat Asia Kecil, yang sekarang disebut
Turki. Kota ini menjadi sebuah kota yang menjadi pusat perdagangan. Kapal-kapal
pedagang dengan mudah berlayar ke Nil di Mesir., sedangkan caravan melakukan
perjalanan lewat darat menuju kota di Babylon. Penduduk Miletus sering
melakukan kontak dagang dengan kota-kota di Yunani dan warga Phonesia. Di kota
ini juga merupakan tempat pertemuan dunia Timur dan Barat, sehingga
memungkinkan orang-orang yang saling bertemu tersebut untuk mengisi waktu
dengan berdiskusi, bertukar pandang dan pikiran, serta berpikir tentang segala
sesuatu. Hal itu merupakan awal dari kegiatan berfilsafat, sehingga para filsuf
Yunani pertama lahir di tempat ini.
Thales merupakan perintis matematika
dan filsafat Yunani, beliau adalah seorang filsuf yang mengawali sejarah
filsafat Barat pada abad ke-6 SM. Thales mendapat gelar “Bapak Filsafat” karena
dia adalah orang yang mula-mula berfilsafat. Sebelum Thales, pemikiran Yunani
dikuasai dengan cara berfikir mitologis dalam menjelaskan segala sesuatu.
Pemikiran Thales dianggap sebagai kegiatan berfilsafat pertama karena mencoba
menjelaskan dunia dan segala gejala-gejala yang ada di dalamnya tidak bersandar
pada mitos melainkan pada rasio manusia. Thales mengajukan pertanyaan yang amat
mendasar, yaitu “Apa sebenarnya bahan alam semesta ini?” dan ia sendiri
menjawab air. Karena pertanyaannya itulah yang mengangkat Thales menjadi
filosof pertama di dunia. Selain sebagai filsuf , Thales juga dikenal sebagai
ahli geometri, astronomi dan politik.
Tentang kehidupan pribadi Thales,
orang tua Thales adalah Examyes dan Cleobuline. Keluarganya memiliki hubungan
keluarga kerajaan Phoenicia. Keluarga Thales memiliki hubungan dengan Cadmus
pangeran Fenisia. Tentang pernikahannya Diogenes mengatakan Thales menikah dan
memiliki seorang putra bernama Cybisthus atau Cybisthon cerita kedua Thales
mengadopsi keponakannya dengan nama yang sama tersebut.
Thales adalah seorang saudagar,
profesi inilah yang membuatnya sering melakukan perjalanan. Dan dia sering
berlayar ke Mesir. Di Mesir inilah, dalam waktu senggangnya Thales
mempelajari astronomi dan geometri. Dia mempelajari ilmu ukur dan membawanya ke
Yunani kembali. Thales dapat mengukur piramida dari bayangannya saja. Selain
itu, ia juga dapat mengukur jauhnya kapal di laut dari pantai. Kemudian Thales
menjadi terkenal setelah berhasil memprediksi terjadinya gerhana matahari pada
tanggal 28 Mei tahun 585 SM. Thales dapat melakukan prediksi tersebut karena ia
mempelajari catatan-catatan astronomis yang tersimpan di Babilonia, sejak tahun
747 SM.
Penemuan Thales dalam matematika
yang menggunakan geometri untuk memecahkan masalah, seperti menghitung
ketinggian piramida dan jarak kapal dari pantai sehingga membuat dia sebagai
matematikawan sejati pertama. Thales juga orang pertama yang mempelajari
listrik. Namun tulisan Thales dalam bidang astronomi lebih dikenal dari pada
karyanya dalam bidang geometri.
Thales mendirikan sekolah filsafat
Ionia di Miletus, dan memiliki banyak murid. Anaximander, Anaximenes, Mamercus
dan Mandryatus adalah nama dari beberapa muridnya. Namun yang sangat terkenal
adalah nama Anaximander (611-546), sukses menggantikan posisi Thales di
Miletus. Dalam bidang politik, Thales pernah menjadi penasihat militer dan
tehnik dari Raja Krosus di Lidya. Selain itu dia juga pernah menjadi penasihat
politik bagi dua belas kota Iona. Penyebab kematian Thales belum diketahui
secara pasti, dia meninggal pada tahun 547 di Miletus.
B.
Pemikiran-Pemikiran
Thales([2])
1. Air Sebagai Prinsip Dasar
Segala Sesuatu
Thales tidak meninggalkan
bukti-bukti tertulis mengenai pemikiran filsafatnya. Pemikiran Thales terutama
didapatkan melalui tulisan Aristoteles tentang dirinya. Aristoteles mengatakan
bahwa Thales adalah orang yang pertama kali memikirkan tentang asal mula
terjadinya alam semesta. Karena itulah Thales juga dianggap sebagai perintis
filsafat alam (natural philosophy)
Thales menyatakan bahwa air adalah prinsip dasar
segala sesuatu. Air menjadi pangkal, pokok, dan dasar dari segala-galanya yang
ada di alam semesta. Berkat kekuatan dan daya kreatifnya sendiri dan tanpa ada
sebab-sebab di luar dirinya, air mampu tampil dalam segala bentuk, bersifat
mantap, dan tak terbinasakan.
Argumentasi Thales terhadap pandangan tersebut adalah
bagaimana bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana semua
makhluk hidup juga memerlukan air untuk hidup. Karena air adalah sumber
kehidupan, dan tanpa air makhluk hidup pasti akan mati. Selain itu, air adalah
zat yang dapat berubah-ubah bentuk (padat, cair, dan gas) tanpa menjadi
berkurang.
Thales juga mengemukakan pandangan bahwa bumi terletak diatas
air. Bumi dipandang sebagai bahan yang satu kali keluar dari laut dan kemudian
terapung-apung di atasnya
- Menurut Thales bahan dasar dari segala sesuatu adalah air, kabut memberi kehidupan bagi segala sesuatu bahkan panas itu sendiri berasal dari kelembaban
- “segala macam benih memiliki kodrat kelembapan”
- “Air merupakan asal dari hakekat benda-benda yang lembab”
- “air merupakan objek komando di kalagan dewa-dewi”
- Benda-benda mempunyai banyak bentuk yang memiliki unsur dasar dan primer yang satu.
2. Pandangan Tentang Jiwa
Thales berpendapat bahwa segala
sesuatu di jagat raya memiliki jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di dalam
hidup, tetapi juga benda mati. Teori tentang materi berjiwa ini disebut hylezoisme.
Argumentasi Thales didasarkan pada magnet yang dikatakan memiliki jiwa karena
mampu menggerakkan besi.
3. Theorema Thales
Di dalam geometri, Thales dikenal
dengan theoremanya, yang disebut Theorema Thales.
Ada lima Theorema Thales, yaitu :
- Lingkaran dibagi dua oleh garis yang melalui pusatnya yang disebut dengan diameter.
- Besarnya sudut-sudut alas segitiga sama kaki adalah sama besar.
- Sudut-sudut vertical yang terbentuk dari dua garis sejajar yang dipotong oleh sebuah garis lurus menyilang, sama besarnya.
- Apabila sepasang sisinya, sepasang sudut yang terletak pada sisi itu dan sepasang sudut yang terletak di hadapan sisi itu sama besarnya, maka kedua segitiga itu dikatakan sama sebangun.
- Segitiga dengan alas diketahui dan sudut tertentu dapat digunakan untuk mengukur jarak kapal.
4. Pandangan Politik
Berdasarkan catatan Herodotus,
Thales pernah memberikan nasehat kepada orang-orang Ionia yang sedang terancam
oleh serangan dari Kerajaan Persia pada pertengahan abad ke-6 SM. Thales
menyarankan orang-orang Ionia untuk membentuk pusat pemerintahan dan
administrasi bersama di kota Teos yang memiliki posisi sentral di seluruh
Ionia. Di dalam system tersebut, kota-kota lain di Ionia dapat dianggap seperti
distrik dari keseluruhan system pemerintahan Ionia. Dengan demikian, Ionia telah
menjadi sebuah polis yang bersatu dan tersentralisasi.
Herodotus mencatat bahwa Thales
memprediksi gerhana matahari dari 585 SM, dan ini merupakan sebuah awal
kemajuan penting bagi ilmu pengetahuan Yunani. Aristoteles melaporkan bahwa
Thales menggunakan keterampilan dengan mengenali pola cuaca untuk memprediksi
bahwa tanaman zaitun musim depan akan berlimpah. Dia pun membeli semua zaitun
baik di kota maupun daerah, dan itu semua menjadi keberuntungan ketika prediksi
menjadi kenyataan.
Plato menceritakan sebuah kisah
Thales menatap langit malam, tidak menonton di mana ia berjalan, dan begitu
jatuh ke selokan. Gadis pelayan yang datang untuk membantu dia kemudian berkata
kepadanya “Bagaimana Anda berharap untuk memahami apa yang terjadi di langit
jika anda bahkan tidak melihat apa yang di kaki anda?” Menurut pendapat
saya, janganlah kita berangan-angan terlalu jauh, jika kita tidak bisa melihat,
mensyukuri, dan memanfaatkan semaksimal mungkin apa yang ada di dalam diri kita
sendiri, maupun yang ada di lingkungan sekitar kita.
- “Sejumlah kata-kata ada bukti dari pikiran yang bijaksana.”
- “Harapan adalah roti orang miskin.”
- “Masa lalu yang pasti, masa depan mengaburkan.”
- “Tidak ada yang lebih aktif dari pada pikiran, untuk itu perjalanan melalui alam semesta, dan tidak ada yang lebih kuat dari keharusan untuk semua harus tunduk kepada itu.”
- “Kenalilah dirimu sendiri”.
BAB
III KESIMPULAN
A.
KESIMPULAN
Thales adalah seorang filsuf Yunani
Kuno pada tahun 624-547 SM yang berasal dari Miletus, pantai barat Asia kecil
(Turki). Beliau mendapat gelar bapak filsafat, karena dia adalah orang yang
pertama kali berfilsafat. Gelar itu di berikan karena ia mengajukan pertanyaan
yang amat mendasar, yaitu “Apa bahan dasar alam semsta ini?” dan dia menjawab
air adalah bahan alam semesta. Ia melihat air sebagai sesuatu yang sangat
diperlukan dalam kehidupan, dan menurut pendapatnya bumi terapung di atas air.
Karena itu Thales juga dianggap sebagai perintis filasafat alam.
Pemikiran-pemikiran Thales yaitu:
- Bumi berasal dari air.
- Air sebagai prinsip dasar segala sesuatu
Thales menyatakan bahwa air adalah prinsip dasar segala
sesuatu. Air menjadi pangkal, pokok, dan dasar dari segala-galanya yang ada di
alam semesta.
- Pandangan tentang jiwa
Thales berpendapat bahwa segala sesuatu di jagad raya
memiliki jiwa, baik benda hidup maupun benda mati.
- Theorema Thales
Dalam geometri ada 5 theorema Thales yang dipakai dalam
penghitungan matematika.
- Pandangan politik
Thales menyarankan bahwa untuk mempertahankan Negara dari
ancaman serangan oleh Negara lain yaitu dengan membentuk pusat pemerintahan dan
administrasi bersama di kota yang memiliki posisi sentral di Negara
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
K. Bertens. 1990. Sejarah
Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius.
http://www.the famous people.com/profiles/Hiales.263php
Juhaya S. Praja. 2005. Aliran-Aliran
Filsafat dan Etika. Jakarta:Kencana.
www.fkuisu.ac.id/737/15/tokoh
yang paling mempengaruhi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar